Mantan Anak Ibu Kost

Pengalaman aku kali ini berawal beberapa tahun yang lalu, sekitar tahun 1993 – 1996. Saat itu aku baru saja mendapatkan kerjaku di kota Surabaya sehingga untuk mendapatkan rumah dalam waktu dekat tidak mungkin aku lakukan karena terus terang saja, aku belum mendapatkan tabungan yang cukup untuk membeli rumah. Akhirnya aku putuskan untuk kost didaerah dekat kantor.

 

Akhirnya aku dapatkan tempat kost yang aku inginkan, perlu pembaca ketahui, nenek kostku mempunyai cucu perempuan yang saat itu masih berada dibawah bangku SMP, sebut saja namanya Endah. Endah adalah sosok yang mengasyikkan jika dilihat, walaupun dia masih dibangku SMP, Endah mempunyai bentuk tubuh yang montok dan setelah aku banding-bandingkan, Endah mirip dengan seorang selebitris di Indonesia yang masih single sampai sekarang. Oya, sebelumnya namaku Dandy, 30 tahun seorang karyawan di salah satu perusahaan di Surabaya.

Singkat cerita, tanpa terasa 2 tahun sudah aku menjalani masa kostku dan karena aku termasuk orang yang supel, aku cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Dan karakter aku itu membuat Endah yang semakin hari semakin ranum dan sexy, tergila-gila dengan aku. Sampai suatu hari aku beranikan diri untuk mencium bibirnya, diluar dugaanku Endah membalas dengan buasnya. Sampai akhirnya aktivitas itu menjadi kegiatan rutin antara aku dengan Endah, sepulang kantor atau memanfaatkan waktu-waktu sepi di kost-kostan. Setiap melakukan hal itu, tanganku yang bandel juga tidak lupa menyelinap di balik CD nya dan sedikit menggesek-gesekan jari telunjukku di ujung clitorisnya. Dan walaupun aku hanya menggesekkan adik kecilku tetapi setiap aktivitas itu, aku selalu mencapai klimaks. 4 tahun ternyata waktu yang sedikit untuk menikmati hal itu. Sampai akhirnya aku harus keluar dari kost-kostan dan Endah harus kuliah di kota dingin Malang.

Setelah sekian tahun lamanya aku tidak mendengar kabar tentang Endah, di tahun 2001 aku iseng-iseng call Endah di rumahnya dan walhasil dari obrolan pertama di telepon tersebut, aku dapatkan nomor phone dia di Malang dan juga dia memberikan nomor HP. Akhirnya kita berdua sering kontak via telephone, walaupun aku sudah berstatus nggak bujang lagi, tetapi dia tetap saja bilang kalau masih sayang sama aku. Sampai akhirnya kita janjian untuk ketemu saat dia week end, karena setiap hari itu Endah selalu rajin pulang ke Surabaya.

Pucuk ditunggu ulam pun tiba, dengan perasaan deg-degan akhirnya aku bertemu dengan sosok Endah yang dulu masih lugu dan centil, sekarang tumbuh menjadi gadis yang sexy, sintal dengan ukuran bra 34. Waw, semakin aku menelan ludah setiap melihat tubuhnya yang sexy.
“Mas Dandy, gimana khabarnya,” tanya Endah merusak pikiranku yang jorok.
“Ee.. baik, bagaimana dengan kamu?” jawabku gugup.
Kita berdua bercerita panjang lebar setelah sekaian lama nggak ketemu, Sampai akhirnya aku harus antar dia balik ke rumahnya di sUrabaya.
“En, kamu sudah punya pacar..?” tanyaku.
“Lagi blank nih Mas.. ” jawab Endha tangkas
“O yah, kamu masih inget nggak saat aku ajarin kamu berciuman dulu?” godaku.
“Ihh, Mas Dandy emang bandel kok,” sambil mencubit lenganku.
“Aow..,” aku meringis kesakitan.
“Kamu mau nggak kalau aku terusin pelajarannya,” tanyaku sekali lagi.
“Mau aja asal Mas yang ajarin,” jawaban Endah membuat aku merinding.

Setelah kita bercanda dan bercerita panjang lebar, akhirnya aku menawarkan diri untuk ketemu minggu depannya lagi.
“Endah, minggu depan ketemu lagi yuk,” ajakku.
“Boleh deh Mas..,” jawab Endah dengan ceria.
“Tapi nginep ya di hotel?” godaku.
“Lho ngapain?” Endah balas bertanya.
“Katanya mau lanjutin pelajarannya..” aku mencoba memancing .
“Nakaall Mas Dandy.. nih.”

Tanpa terasa akhirnya Endah harus turun di dekat rumahnya.
“Ma kasih ya Mas, sampai ketemu minggu depan,” sambil pamit Endah mengecup pipiku. Alamak, darah mudaku bergejolak menerima sentuhan bibirnya yang mungil. Aku perhatikan lenggak-lenggok pinggulnya meninggalkan mobil starletku, sembari aku membayangkan seandainya aku bisa menikmati tubuh kamu Endah, duh betapa bahagainya diriku.

Satu minggu tanpa terasa aku lewatin, sampailah aku ketemu dengan Endah. Kali ini aku sudah booking hotel berbintang di pinggiran kota untuk satu malam. Tepat pukul 16.30, sepulang kantor aku bergegas mengemasi pekerjaan aku dan meluncur di tempat yang sudah kita sepakati bersama.
Bulu kudukku merinding saat dia memasuki mobilku, parfumnya yang harum sontak menggugah saraf kelaki-lakianku.

Tanpa pikir panjang, aku segera meluncur menuju hotel yang sudah aku booking sehari sebelumnya. Jujur saja, buat Endah ini adalah hal yang pertama masuk di hotel, sehingga dia sedikit kaku untuk lingkungan yang ada. Setelah chek ni, aku bergegas menuju lift untuk langsung ke kamar.
“Mas, aku mau mandi dulu ya..?” pinta Endah.
“Oke silahkan, apa mau aku mandiin,” godaku.
“Nggak ah, nakal Mas Dandy nih..” sambil menjawab seperti itu, Endah bergegas menuju kamar mandi, dengan dibalut sehelai handuk, Endah berjalan gontai menuju kamar mandi. Mataku benar-benar tidak bisa berkedip melihat pemandangan tubuh Endah yang benar-benar menggairahkan. Pikiranku melayang saat membayangkan kemolekan tubuhnya.

20 menit berikutnya Endah keluar kamar mandi dengan menggunakan gaun tidur yang tipis, hingga membuat darah sex aku naik ke ubun-ubun. Akan tetapi aku berusaha mengendalikan gejolak nafsuku di depan Endah karena memang di depan dia, aku adalah figur seorang kakak yang baik.
“O ya Endah, kamu mau makan apa sekalian pesannya,” tanyaku untuk menutupi gejolak bathinku.
“Terserah Mas deh,” jawabnya.

Singkat cerita, waktu sudah menunjukkan pukul 20.15 menit dan tanpa terasa kami sudah bercerita panjang lebar, untuk sekedar melepas kangen. Kita berdua bercengkrama, bercanda cerita tentang apapun, sampai akhirnya..
“En, kamu serius mau lanjutin pelajarannya,” tanyaku serius.
“He eh Mas Dandy,” jawabnya.
“Endah..” aku tidak meneruskan pertanyaanku karena dengan cepat aku langsung menyerbu bibir Endah yang mungil.
“Mas..” Endah mendesah sambil memeluk badanku erat, tangannya yang bandel mulai meraba daerah sensitifku, sesekali memainkan rambutku. Endah mengelus kudukku sehingga membuat aku terangsang hebat.
Lidah Endah yang nakal, sesekali mengimbangi lidahku yag menjelajah seluruh bibirnya. Jemariku mulai bergerilya untuk melepas pengait BH Endah. Pengait BH nya terlepas,
“Mas.. kamu memang guru yang baik,” sambil aku benamkan dalam-dalam wajahku dalam belahan payudaranya yang montok.

Sekitar 15 aku bercumbu dengan Endah, aku semakin penasaran dengan apa yang ada dibalik CD nya. Dengan perlahan aku mulai berusaha membuka CD yang dikenakan oleh Endah dan kegiatan aku semakin mudah karena Endah berusaha mengangkat pantatnya sehingga memudahkan aku untuk mempreteli CD nya. Alamak! bulu yang tumbuh masih halus sekali dan baunya wow.. ranum sekali segar, tanpa berpikir panjang aku segera membuka kedua pahanya dan mengunci dengan lenganku sehingga vagina Endah yang masih merah terpampang jelas didepan mataku. Dengan usapan halus, lidahku yang bandel mulai menjelajahi setiap mm permukaan vagina Endah.

“Oh.. Mas Dandy.. asyik sekali Mas.. ughh,” rintih Endah saat lidahku mulai nakal menguak lubang surganya. Tubuh Endah seperti cacing kepanasan menerima setiapa jilatan lidahku, hisapan lidahku dan sesekali mengangkat pantatnya saat lidahku masuk dalam-dalam lubang vaginanya. Sesekali tangannya meremas rambutku yang sedikit gondrong, dan hal itu membuat gairahku semakin naik.
“Mas Dandy.. enak sekali Mas.. oh.. kenapa nggak dulu-dulu Mas,” rengek Endah sambil melihat lidahku sedang mengerjai vaginanya. Clitorisnya yang semakin membesar memudahkanku untuk membuat Endah melayang. Ternyata Endah type orang yang mudah orgasme terbukti 15 menit pertama dia mengerang sambil menaik turunkan pantatnya.
“Mas.. Mas Dandy, Endah kebelet pipis Mas.. aduh,” rintih Enda.
“Pipis aja sayang di mulut Mas..” jawabku.
“Mas.. aduh.. Endah nggak kuat..” Endah menjerit lirih sambil menggapitkan kedua pahanya di kepalaku. Dengan cekatan aku langsung membuka lebar mulutku dan cairan yang keluar begitu banyak sehingga aku merasakan minum air putih.
“Aduh Mas Dandy.. sudah sayang.. uh.. nikmat sekali Mas, kamu memang pandai dalam bercinta aakhh..” kata Endah. Aku tidak mendengar kan rintihannya, karena aku berkonsentrasi untuk ronde berikutnya karena aku ingin Endah merasakan nikmatnya bercinta dengan aku.

Setelah cairan yang keluar aku berihkan dengan cara aku jilatin, Endah kembali terangsang saat clitorisnya aku gesek dengan batang kemaluanku.
“Wow.. panjang sekali Mas Dandy.. aku suka banget.”
Endah mulai menjilati dan mengulum batang kemaluanku, sepertinya dia sangat pandai mengoral cowok.
“Aakhh.. Endah.. kamu pinter tuh,” erangku.
Endah tidak menjawab pujianku, dia semakin lahap menelan dan mengulum serta meghisap penisku, aku merem melek setiap penisku masuk dalam mulutnya.

Dasar aku, dengan kecepatan yang tidak diduga, aku langsung meraih selangkangan Endah sehingga posisi kamu menjadi 69. Kita berdua saling membuat rangsangan pada daerah-daerah yang sensitif.
Tidak selang berapa lama,
“Mmm, Mas Dandy.. aku.. pipis lagi.. oh..” Endah menggelepar kedua kalinya menerima serangan lidahku dan aku tidak tinggal diam, segera aku membalikan tubuh Endah dihadapanku dan,
“Endah kamu masih virgin?” tanyaku.
“Mungkin sudah tidak Mas,?” jawab Endah.
Aku sedikit kaget sembari bertanya, “Siapa yang lakukan pertama?”
“Aku pernah jatuh Mas, terus ngeluarin darah.”
Sambil membisikna kata mesra, aku berusaha mencari lubang untuk adik kecilku yang sudah mulai menegang 7 kali lipat dari biasanya. Dengan bantuan sisa cairan yang masih ada di sekitar vagina Endah, penisku mulai mencari lubangnya dan bless.
“Mas Dandy.. enak sekali sayang.”
Endah membantu mempermudah aku untuk memasukan penisku, sambil mendekap tubuhku, dia mulai memutar pinggulnya, sehingga penisku terasa ada yang memijit.
“Ooh.. Mas Dandy, kenapa tidak dari dulu kau berikan kenikmatan ini padaku..” Endah berkelenjotan menerima sodokan penisku.
“Crek crekk crek” penisku keluar masuk dalam lubang vaginanya yang sudah mulai becek dan basah kuyup.
“Mas.. Endah, pipis lagi.. ahh..” Endah menjerit panjang saat orgasme yang ketiga diraihnya.

Aku sudah tidak mempedulikan keadaan dia yang masih lemas setelah 3 kali orgasme, aku langsung membalik tubuh Endah sehingga posisi Endah sekarang seperti doggi style. Dengan leluasa aku bisa mengentot Endah dari belakang dengan keringat bercucuran.
“Mas.. kamu memang jago.. ooh.. uughh..” Endah merintih saat penisku masuk semua sampai pangkal batang kemaluanku. Tangannya yang halus hanya bisa mencengkeran seprei hotel saat menahan kenikmatan yang aku berikan. Pikiranku hanya satu, aku harus bisa memberikan kepuasan yang abadi untuk Endah, sehingga kalau dia butuh lagi pasti mencariku.

45 menit sudah pergumulan ini terjadi, entah berapa kali sudah Endah orgasme. Sampai akhirnya aku sendiri sudah merasakan klimaks sudah di ubun-ubun.
“Endah.. Mas mau keluar nih..,” rintihku.
“Iya Mas, jangan dikeluarin didalam ya Mas..,” pinta Endah.
“Iyaa.. sayang.. duh, tubuh kamu benar-benar montok sayang.. uughh.”
Aku merintih saat dia mulai meggoyang untuk ke sekian kalinya, gila gadis muda yang dulu aku kenal masih lugu, sekarang sudah menjadi pasanganku untuk bercinta.
“Endah.. ohh Mas keluar..,” secepat kilat aku mencabut penisku dan mengarahkan ke mulut Endah.
“Aowww..” spermaku muncrat diwajah Endah. Endah menjilati penisku dengn lahap sampai tidak tesisa sedikitpun spermaku yang keluar.
“Mas, kamu memang guru jempolan.. aku sudah 9 kali orgasme, Mas Dandy baru sekali.. kamu hebat Mas,” cerita Endah.
“Kamu suka sayang,” tanyaku.
“Suka banget, kamu maukan selalu berikan kenikmatan itu untukku?” balas Endah bertanya.
“Iya sayang, aku janji memberikan kenikmatan itu.”

Endah memelukku dan membimbing aku untuk ke kamar mandi, dan dalam kamar mandipun aku juga melakukan lagi sampai pukul 3 dini hari. Sangat romantis bercinta dengan mantan anak ibu kost, karena dia juga baru pertama ini mengalami orgasme yang luar biasa dan sampai sekarang aku masih kontak-kontak sama dia, tepatnya saat dia butuh, aku segera atur jadwalku.

TAMAT

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Lalulintas Birahi

Rudi adalah pria awal 30-an berpenghidupan lumayan dengan pekerjaan sebagai seorang pialang di suatu perusahaan sekuritas sedang. Tidak ada yang aneh dengan kehidupannya. Semua berjalan lancar. Bila ada tekanan-tekanan dalam pekerjaan bahkan membuatnya merasa bergairah untuk menjalaninya. Ini hidup katanya dalam hati.

 

Kehidupan seks-nya juga demikian, hampir tidak ada masalah. Ia bisa mendapatkan apabila ia ingin, tentunya dengan proses yang wajar, karena Rudi sangat menghindari ‘sex shopping’ atas alasan-alasan tertentu. “Biar cinta berjalan semestinya,” yakinnya.

Sore itu market mendekati closing hours. Ia menjauhi mejanya, berjalan sebentar meregangkan otot. Hari ini ia sangat puas. Pasar sangat bersahabat dengannya. Sejumlah keuntungan berhasil dibuatnya dalam one day trade. Sebagian masuk ke dalam rekening pribadinya. “Aku memang patut mendapatkan,” pikirnya, tidak ada yang merugikan atau dirugikan, kepuasan seperti ini selalu membuatnya terangsang secara seksual. Dipandangnya sekitarnya. Ada beberapa wanita rekan kerja yang masih berkutat. Ia segera memalingkan wajahnya. Perlu beberapa tahapan untuk mengajak salah seorang dari mereka ke tempat tidur, dan itu menyita waktu dan emosinya. Lebih baik aku pulang batinnya. Ada sesuatu yang mengingatkan untuk menunda jam kepulangannya, ia tidak mempedulikan.

Dikemudikan mobilnya keluar dari basement perlahan. Beberapa anak SMU tampak bergerombol di halte dekat gedung kantornya. “Ahh..” kernyitnya. Ia terjebak di kemacetan rutin sore hari. Dirinya sudah mengingatkan agar menunda. “Instingku semakin bagus saja,” senyumnya kecut. Dilihatnya ke luar jendela mobil. Antrean mobil sepanjang kira-kira 200-an mobil tidak bergerak sama sekali. Dilihatnya ke belakang dengan putus asa. Keadaan di belakang sama buruknya dengan pemandangan di depannya.

Rudi menarik nafas dalam-dalam. Digerakkan cermin di atas ke wajahnya. “Tenang Rud, ini bukan alasan yang bagus untuk merusak 1 hari tenangmu,” katanya sambil membenarkan letak rambutnya. Tiba-tiba seseorang berseragam LLAJR mengetuk kaca mobilnya. Dengan segan ditekannya switch jendelanya. Petugas itu memberitahu kalau terjadi kecelakaan beruntun di depan dan mungkin lalu lintas baru dapat lancar paling cepat 30 menit. Dihempaskan tubuhnya ke kursi mobil. “Bagus!” ia menutup wajahnya. Itulah alasan yang paling tepat untuk merusak moodnya. Dibukanya TV mobil. Dipilihnya satu film porno kesayangannya di remote. Ditatapnya adegan-adegan itu dengan hambar. “Huh! Di tengah kemacetan nonton film porno malah menambah masalah,” sungutnya sambil mematikan. Rudi menyerah. Dimatikan mesin mobil sembari menatap ke arah kiri.

Tampak di luar gadis-gadis berseragam SMU masih bergerombol menunggu bis kota. Beberapa di antaranya duduk di trotoar. Diperhatikannya satu persatu. “Dasar gadis remaja, mereka tidak mempedulikan cara duduknya,” katanya dalam hati. Tiba-tiba darahnya berdesir. Tungkai-tungkai indah itu milik gadis yang sangat muda. Diperhatikannya lagi lebih seksama. Ada yang bertumpu dengan tangannya di belakang sehingga dadanya membusung ke depan. Wajahnya begitu bersih dan muda. Rambutnya sebahu dengan leher yang jenjang. Rudi mulai termakan fantasinya sendiri. Ia memang tidak pernah bercinta dengan gadis belia. Itukah yang diinginkannya saat ini? “Tidak,” sahutnya sendiri, “Itu terlalu gila.” sambil menatap ke depan ia tak dapat menahan diri untuk melihat kembali ke arah kirinya. Diperhatikan dengan seksama lekukan pantat yang padat itu dengan lutut indah dan kulit yang bersih. Segala gerakan gadis itu ditangkap matanya dan dialirkan ke otaknya dalam format gerakan erotis.

Tiba-tiba salah seorang dari mereka tersingkap roknya. Rudi bersorak dalam hati. Diperhatikannya dengan seksama paha bagian dalamnya.. begitu kencang, dan perlahan ia mulai ereksi. Kaca film mobilnya membuatnya sangat aman dalam bereksplorasi. Ia mulai menurunkan reitsleting celananya. Dibelainya lembut batang kejantanannya tanpa melepaskan pandangan dari gadis itu. Jantungnya berdetak kencang. Imajinasinya meluapkan perasaan baru yang sangat dahsyat, bercinta dengan belia. Butir keringat mengalir ke lehernya. Ditariknya beberapa lembar tissue apabila ia orgasme nanti.

Tiba-tiba para gadis itu berdiri dan berjalan menjauhi halte karena beberapa orang berkulit gelap berbadan besar memasuki halte itu. Rudi meraung keras sekali. “Arrgh!” Ditatapnya para lelaki itu. Mereka menyerupai segerombolan kera besar daripada manusia. Dilemparnya box tissue ke belakang. Ia percaya bahwa saat itu kecepatan batang kejantanannya menyusut lebih cepat dari cahaya. Dengan mengumpat ia merapatkan reitsleting celananya kembali.

Langit semakin gelap. Rupanya awan berkumpul membentuk sebuah awan gelap besar. Kilat dan guntur bersahutan, diakhiri oleh curahan air yang berirama semakin cepat dan lebat. Di dalam mobil Rudi tampak melambai-lambaikan tissue putih di atas kepalanya, tanda menyerah kepada nasib buruknya. Para gerombolan kera itu bergerak melewati depan mobilnya menyeberang ke seberang jalan. Salah seorang dari mereka memukul kap mobilnya. Rudi membalas dengan mengacungkan jari tengahnya. Ia merasa aman. Toh mereka takkan melihatnya.

Dinyalakannya mesin mobilnya karena kaca mulai mengembun. Dinyalakan stereo mobilnya sambil memandang ke kiri. Rudi hampir memekik girang. Salah seorang dari gadis SMU itu ada di sana dalam keadaan basah kuyup. Rudi memutar kepalanya untuk mencari yang lain. Ah, tampaknya ia sendirian, sesal Rudi. Tapi tunggu.. dalam keadaan basah semua lekuk tubuh gadis itu menjadi tercetak jelas. Rambutnya yang basah, pakaian putihnya melilit erat tubuhnya yang sintal, payudaranya menggelembung indah dengan pantat yang bundar, Rudi kembali ereksi. Bibirnya bergetar menahan nafsu birahinya yang melintas menabraknya berulang-ulang. Matanya terasa panas. Dibukanya pintu mobilnya kemudian ia berlari mendekati gadis itu. Sengaja ia berdiri di belakangnya supaya leluasa menatap tubuh gadis itu. Betapa belianya gadis ini, tubuh yang belum pernah tersentuh oleh lelaki. Payudaranya sangat penuh menyesaki branya sekitar 34. Pinggul yang ramping dengan pantat bundar yang berisi ditopang oleh lutut dan tungkai yang indah dan bersih.

Gadis itu memutar tubuhnya dan berhadapan dengannya yang sedang menjadi Juri festival foto bugil. Rudi tergagap dan secara refleks menyapanya. Gadis itu tersenyum sambil memeluk tasnya menutupi seragamnya yang transparan. Dengan berdalih bosan di mobilnya, Rudi mendapatkan banyak alasan dan obrolan ringan di halte itu. Gadis itu bernama Dina, kelas satu SMU swasta berumur 16 tahun. Rudi tak menghiraukan secara detail percakapannya karena suara Dina terdengar sangat merangsangnya.

“Kita ngobrol di mobil yuk, capek berdiri nih,” kata Rudi.
Dina menatap ragu. Rudi menangkap maksud pandangan itu.
“Ok, begini.. Kamu nggak perlu takut. Ini dompet saya. Ini kunci mobil. Di dalamnya ada semua kartu identitas saya. Kalo saya berniat jahat dengan kamu, kamu boleh buang kunci ini dan bawa dompet saya ke polisi, ok?” Dina tersenyum riang menerima dompet itu, lalu mereka bersama-sama memasuki mobil.

Di dalam mobil Dina merasa gugup. Baru kali ini ia manuruti orang asing, laki-laki lagi. Sekilas teringat pesan ibunya untuk menjaga diri, dan bayangan pacarnya yang tidak menjemputnya. Dina menjadi kesal. Dina membuka dompet itu, terdapat beberapa credit card dan kartu identitas. Diambilnya KTP lalu diselipkan di saku bajunya. “Ini cukup,” ujarnya. Dengan tersenyum acuh Rudi menerima dompetnya kembali sambil menyalakan stereo setnya. “Kamu kedinginan? saya punya kemeja bersih. Kamu bisa ganti baju di belakang. Saya janji tidak akan menegok ke belakang,” tanya Rudi penuh harap. Dina menggelengkan kepalanya.

Obrolan sore itu menjadi lancar didukung suasana gelap mendung dan derasnya hujan. Bahkan Dina pun mulai berani menceritakan dirinya. Mata Rudi mencuri pandang untuk menatap paha Dina yang tersingkap. Rudi menceritakan dirinya, pacarnya dan secara halus iapun menceritakan pengalaman seksualnya, bagaimana ia melakukan foreplay. Ia ceritakan dengan lancar dan halus hingga Dina tidak tersinggung. Rudi menangkap beberapa kali Dina menarik nafas panjang, sepertinya Dina terangsang mendengar cerita Rudi. Wajahnya mulai memerah, jemarinya memilin ujung tali tasnya. “Tampaknya ini tak cukup,” kata Rudi. Lalu ia menawarkan Dina untuk menonton VCD kartun kesayangannya. Dina berseru gembira. Lalu Rudi membuka TVcar-nya dan berkata, “Kamu tunggu di sini. Kunci pintunya. Saya mau keluar beli permen di sebelah halte itu.” Dina mengangguk pelan dan matanya menatap layar TV kecil penuh harap.

Rudi keluar mobil sambil membawa remote lalu menyalakan VCD changer dari luar mobil dengan film yang sama ia tonton sebelum hujan tadi. Ia berlari ke pedagang asongan pinggir jalan dan melirik jamnya.. 5 menit dari sekarang! sambil membicarakan cuaca ke pedagang asongan itu. Dina menatap adegan di mini TV itu. Lelaki sedang menjilati seluruh tubuh wanita pasangannya. Jantungnya berdegub. Ia memejamkan mata, tetapi suara lenguhan dan desisan membuatnya kembali ke layar. Dilihatnya keluar. Ia tak bisa menemukan Rudi dari dalam mobil itu. Kembali ke layar, tertegun ia melihat lelaki itu menjilati puting susu. Tangannya menjadi dingin. Lelaki itu sekarang menjilati paha. Dina menyilangkan kaki kirinya di atas kaki kanannya. Lalu lelaki dalam film itu mulai menjilati liang kewanitaan wanita itu. Dina merasa seluruh tubuhnya gemetar, nafasnya terengah-engah. Iapun heran mengapa nafasnya begitu.

“Sorry rada lama, nggak ada kembalian. Terpaksa saya nunggu pedagangnya tukar uang,” sembur Rudi. Dina tersentak dan memalingkan wajahnya. Rudi pura-pura terkejut sambil cepat-cepat mematikan stereonya dan menutup layarnya. “Aduh, maaf.. kenapa bisa ini.. maaf Din,” kata Rudi tergagap. Lalu ia membuka CD changer dan mengambil piringan porno itu lalu mematahkan menjadi dua dan membuangnya ke luar mobil. Dina sangat terkejut melihat itu lalu berkata, “Udah deh Rud nggak pa-pa.. sorry juga aku nggak bisa matiinnya,” katanya sambil memegang lengan Rudi. Rudi menoleh pelan sambil menatap mata Dina. “Sorry?” Dina menyahut pelan. “Nggak pa-pa,” nafasnya masih terengah-engah. Inilah saatnya, batin Rudi. Now or never.

Dipegangnya lengan Dina. Ditariknya mendekat, disingkirkan tas di hadapannya. Melihat seragam putih yang masih basah dengan bra membayang itu Rudi kehilangan kontrol. Bibirnya langsung mengecup bibir Dina. Dina tersentak ke belakang kaget. Rudi memburunya. Dikulumnya bibir bawah Dina yang masih terengah-engah itu, sambil menurunkan posisi kursi mobilnya sehingga Dina tampak seperti berbaring. Dilepasnya bibir, dilanjutkan ke telinga. Lidahnya menggelitik belakang telinga Dina sambil sesekali menyeruak masuk ke lubang telinganya. Bau harum rambut Dina memancarkan bau alami gadis belia tanpa parfum, mengundang Rudi untuk berbuat lebih jauh. Dibukanya kancing seragam sekolah Dina sambil mengulum mulut Dina. Dina menggelengkan kepalanya perlahan. Rudi mengangkat kepala sejenak melihat gundukan daging padat dan kenyal terbungkus bra berkain lembut. Betapa muda dan tak berdosanya. Biarkan aku menikmati tubuh beliamu, merasakan dengan seluruh indraku untuk membuatmu menjadi ternoda. Aku ingin menyetubuhimu, menghinakan tubuh sucimu, karena aku pantas mendapatkan tubuhmu, hati Rudi berteriak.

Dibukanya bra itu lalu dengan rakus dijilat puting kiri Dina sambil meremas payudara kanannya. Dikulumnya semua daging payudaranya, seakan hendak ditelannya. Dina mengerang. Kakinya menjejak-jejak lantai mobil. Lalu Rudi memindahkan tubuhnya ke atas Dina. Dengan kasar dipegangnya celana dalam Dina. Dina tak sanggup berkata dan bergerak, semuanya begitu ketakutan.

Keingintahuan dan kenikmatan berbaur, muncul silih berganti menggempur hati, otak dan nalurinya. Saat ia merasa takut dengan perbuatan Rudi, sedetik kemudian ia merasa jiwanya melayang, sedetik kemudian otaknya memerintahkan tubuhnya agar bersiap menunggu kejutan berikutnya begitu berulang-ulang. Dina meneriakkan kata jangan sewaktu Rudi dengan kasar melepas celana dalamnya, lalu ia didudukkan di atas kursi mobil bagian atas. Rudi berpindah tempat dengan cepat ke bawah tubuhnya dan mulut Rudi mulai menjilati liang kewanitaannya seperti hewan yang kehausan. Dicengkeramnya pegangan pintu, kakinya diangkat oleh Rudi ke atas. Dina tak tahu apa yang dilakukan Rudi, tapi ia merasa ada sesuatu di dalam dirinya. Perasaan yang aneh, dimulai dari jantungnya yang berdetak lebih keras lebih cepat menjalar ke pinggulnya, sementara denyutan liang kewanitaannya membentuk impuls yang semakin kuat, semakin cepat, kakinya mengejang, pandangannya mengabur, jiwanya serasa terhempas keatas-bawah. Namun tiba-tiba semua itu berkurang. Dibukanya matanya. Tampak Rudi sedang mengamatinya dengan matanya yang menyala oleh birahi.

Rudi mengambil nafas sejenak. Ditatapnya liang kewanitaan Dina dengan rambut kemaluan yang tumbuh tak beraturan. Kemudian dilanjutkannya lagi jilatan sekitar klitoris Dina. Begitu muda, ditatapnya sebentar, liang kewanitaan belia sekarang milikku. Aku menjilatinya, aku menghisapnya.

Sekarang aku bahkan menggigitnya. Liang kewanitaan ini milikku, akan kunodai sesukaku, dengan caraku, dengan nafsuku. Akan kubuat tubuh suci ini ternoda oleh tubuhku, oleh nafsuku. Akan kutaburi tubuhnya dengan spermaku. Akan kuberi cairanku yang akan menyatu dengan dirinya sehingga ia akan selalu terkotori oleh nodaku. Rudi semakin liar dan segera menghentikan tindakannya ketika Dina mulai mengejang. Dibukanya cepat celananya, digosokkan batang kejantanannya ke permukaan liang kewanitaan Dina. Dengan mudah dimasukkannya batang kejantanannya perlahan-lahan senti demi senti, sambil mengulum dan meremas payudara kenyal Dina. Lalu dibenamkan semua batang kejantanannya. Betapa hangat, betapa nikmat. Lalu mulai digerakkan maju-mundur, semakin lama semakin cepat. Rudi mendengar suara Dina hanya, “Ssh.. sh..” terputus-putus. Lalu diangkatnya pinggul Dina. Dipercepat gerakan pinggulnya sendiri sampai tubuh Dina melengkung kaku. Kini saatnya.. Rudi mengeluarkan spermanya sambil menekan dalam-dalam.

Lima belas menit setelah itu.. Dina menggigit ujung seragamnya yang lusuh, sementara Rudi merapikan rambutnya. Oh puas, dan aku sekarang benci sekali dengan gadis ini, gadis belia yang ternoda. Diambil KTP dari saku Dina lalu sambil diselipkan ke dompet ia mengeluarkan 3 lembar seratus ribu rupiah sambil mencium pipi Dina. “Ini buat kamu.” Dina menolak sambil terkaget- kaget. “Aku bukan gadis bayaran Rud..” katanya sambil mulai menangis. “Aku sayang kamu Rudii..” sambil terisak-isak. “Tapi aku tidak sayang kamu,” kata Rudi sambil meletakkan uang itu di dalam tas Dina, lalu Rudi keluar. Dalam guyuran hujan ia membuka pintu mobil, lalu menarik Dina keluar. “Lalu lintas akan lancar. Aku harus pulang, kamu juga. Kita pisah di sini. Eh Din.. thanks ya?!” Dina berteriak histeris sambil lari keluar. Rudi kembali ke mobilnya mengunci pintu dan tersenyum melihat mobil di depannya bergerak ke depan.

TAMAT

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

kesepian

Aku terlahir dari sebuah keluarga besar, dengan dua orang Ibu dan 6 orang anak. Bapak saya beristri lagi saat saya berumur 2 tahun dan Ibu sakit sakitan. Umur 10 tahun bapak meninggal, dan Ibu tiri pindah dengan anak anak nya. Dari sinilah semua kehidupan saya berawal!

 

Dari Ibu saya kandung, terlahir 3 orang anak, saya yang paling kecil. Saat bapak meninggal, saya berumur 10 tahun, tapi kedua kakak saya sudah besar besar. Jadi pas saya umur 12 tahun, 2 kakak saya sudah pindah dan berkeluarga.

Tinggallah saya sendirian dirumah peninggalan orang tua. Kakak saya tinggal tidak jauh dari rumah pokok, jadi.. itu sebabnya saya juga meski baru berumur 12 tahun dibiarkan tinggal sendirian dirumah warisan dengan pengawasan mereka.

Satu saat saya juga bahkan dikasih pembantu laki laki yang bertugas mengurus dan membersihkan rumah sekaligus menemani saya dirumah, karena saya sering takut kalau malam sendirian.

Pembantu laki laki ini masih muda, 15 tahun, dia tidak sekolah karena keluarganya tidak mampu. Keluarga dia juga cuma punya rumah kecil dan anaknya banyak, jadi orang tua mereka senang kalau pembantu saya tidur dirumah. Bahkan seringkali juga saudara saudara pembantu saya ikut bantu bantu dirumah saya dan tidur disana pula.

Sebagai anak yang kurang pengawasan karena tidak ada orang tua dan kakak sibuk dengan suaminya, saya termasuk anak yang bebas lepas. Meski.. termasuk masih dalam kontrol karena pendidikan dasar yang kuat dari orang tua sebelumnya, tapi.. sejak umur 12 tahun saya sudah mencari cari dan mencoba coba segala hal yang berhubungan dengan sex.

Buku buku porno picisan saya koleksi, bantal dan guling yang akhirnya jadi korban. Penuh flex flex noda gairah belia saya. Tapi pada akhirnya, bantal dan guling saja tidak cukup. Saya mulai nakal dengan suka mengintip pemuda pemuda mandi, atau kencing saat malam hari.

Penis! pada umur itu saya sudah mulai melihat dan mengerti lekuk lekuknya dari mengintip. lama lama saya tidak tahan. Satu malam, hujan deras dan kencang. Saya takut dengan suara gemuruhnya, akhirnya, saya nekat ke kamar pembantu tanggung laki laki saya. Dia tidak marah dan tidak bereaksi. Cuma memeluk saya dan kembali tertidur.

Sejak saat itu saya tidak bisa lagi tidur sendirian, pembantu laki laki saya saya ajak tidur dikamar saya, dan ia nurut. Satu malam, saat sedang tidur, pembantu saya memeluk saya erat sekali dari belakang. Leher belakang saya diciumi dengan kencang, nafasnya menderu deru keras sekali. Panas, dan penuh gairah tiba tiba sekujur tubuh saya.

Saya tidak tahu benar apa yang terjadi, tapi saya suka dan yakin, inilah yang saya tunggu tunggu!

Pembantu saya menggoyang goyangkan pinggangnya dan menekan nekan bagian kemaluannya ke bongkahan pantat saya dari belakang. Panas dan enak. terasa benar ada benda keras disana. Dengan menahan perasaan, saya arahkan tangan saya ke arah kemaluannya yang keras. Terasa lebih panas dan enak lagi. Cuma saya heran, kemaluannya yang keras terasa besar sekali ditangan saya. Sebelumnya saya pernah mengintipnya saat dia mandi, dan kemaluannya tidak keras dan tidak sebesar ini.

Penasaran, saya masukan tangan saya kedalam celananya. Tersentuhlah ia oleh tangan telanjangku! Oh Tuhan! terasa panas dan enak sekali! Entahlah, tiba tiba badanku menggigil. Aku ingin mendekapnya. Aku ingin menciumnya. Oh, badanku mencair. Lubang bawahku menganga panas dan terasa kosong. Mulutku meleleh dan ingin mengunyah kemaluannya. Tapi saya malu dan tidak tahu harus bagaimana?!

Pembantu laki lakiku berinisiatif sendiri. Ia buka resluiting celananya dan ia pelorotkan celana dalamnya. Bebaslah kemaluan tegak dan kerasnya kearah bongkahan pantatku. Aku masih membelakanginya saat itu, aku malu untuk berputar meskipun tanganku sudah menggenggam erat kemaluannya dan tak ingin aku lepaskan lagi.

Ia mulai menerjang nerjangkan kemaluannya digenggamanku agar tanganku terasa mengocok kemaluannya. Oleh karena terjangannya yang keras, ujung kemaluannya yang tidak tergenggam oleh tanganku menerjang nerjang belahan pantatku. meski aku masih tertutup celana, tapi panas kemaluannya terasa sekali di kulit belakangku. Tanpa sadar, aku menyingsingkan kain yang menutup kulitku dan melepas celanaku.

Menyadari sekarang bahwa aku juga lepas dan tak terkendali, pembantu laki lakiku mnggeser tubuhnya kearahku dan dengan terus menerjang nerjang ke tubuh belakangku tangannya kini memelukku kuat. Oh, hangat dan enak sekali. Aku melambung di langit ketujuh. Dan aku mencapai langit kesembilan ketika mulutnya juga sibuk mencium dan melumat lumat leherku dari belakang. Kemaluannya terasa basah dan licin sekarang, mungkin itu cairan pelumasnya meleleh. Kepala kemaluannya terasa panas, keras, dan licin menggaruk garuk lobangku dari belakang. lobangku terasa panas dan menganga. Entah bagaimana, aku lebih membungkukan badanku kearahnya dan pantatku semakin menempel kearah kemaluannya.

Terjangan terjangan kemaluannya kini sudah mulai menyenggol nyenggol lobang anusku. Ohh, terasa panas dan nikmat sekali. lobang anusku gatal dan basah, ingin dimasuki dan disumpal. Pembantu laki lakiku seakan megerti keinginanku. Tanganku yang menggenggam kemaluannya diusirnya dan ia genggam kemaluannya sendiri dan diarahkan ke arah lobang belakangku yang menganga dan panas meledak ledak. Perlahan diarahkan dan diterjangkannya kemaluannya ke lobangku. Kepala kemaluannya yang licin perlahan lahan dan sedikit demi sedikit membuka jalan masuk untuk keseluruhan panjang kemaluannya.

Sepertiga kemaluannya masuk, lalu ditariknya keluar, dimasukkan lagi, dikeluarkan lagi, lalu setengah kepala kemaluannya mulai bisa masuk, kembali dengan sabar ia mengeluar masukkan separuh dari kepala kemaluannya. Aku tidak tahan! Akhirnya aku mendorongkan pantatku ke belakang saat dia memasukkan kepala kemaluannya ke lubangku.
“Schckreecck!”
“Aahh!”
Kami sama sama teriak saat seluruh kepala kemaluannya dengan tiba tiba karena dorongan pantatku kebelakang melesak masuk. Pantatku terasa perih dan kemaluannya terasa berdenyut denyut.

“Ohh..” Pembantu laki lakiku melenguh nikmat ketika ia menyadari kepala kemaluannya sudah masuk dilobangku yang panas dan penuh kenikmatan. Ia mulai menggerak gerakkan pantanya lagi maju mundur. perlahan lahan sisa batang kemaluannya melesak masuk. Panas, perih, nikmat.. segala perasaan bercampur aduk di badan, kepala, dan lubang nikmatku.

Dan kemaluanku melesak kedalam tubuhku semakin dalam, semakin dalam, semakin dalam.. Ohh, aku melenguh, dan pembantu laki laki ku terengah engah dan mengaduh aduh kenikmatan. Aku terasa panas terbakar. dan segala rasa di pikiran dan badanku seolah olah terbawa dan tertarik keluar masuk seiring dengan gerakan lembut keluar masuk penis pembantu laki laki ku di lubang kemaluan nikmatku..

Perlahan lahan pembantuku menggenjotkan kemaluannya keluar masuk lubang hangatku, semakin dalam, semakin dalam, sampai akhirnya aku merasakan bulu kemaluan dan biji pelirnya menyentuh bongkahan pantatku. Aku mendesah puas menyadari pembantu laki laki ku berhasil memasukkan seluruh kepanjangan kemaluannya ditubuhku. Dia mulai cepat mengeluar masukkan kemaluannya. Dan aku semakin basah. kemaluannya semakin hangat dan licin. Lama lama terdengarlah bercakan bercakan nikmatnya senggama dari kemaluan kerasnya yang luar biasa nikmat dan lubang cinta ku yang berbahagia.

Maju mundur, keluar masuk, ditarik dan ditembakkannya kemaluannya ke lubangku lama dan nimat. pelan pelan, keras, pelan pelan lagi, cepat, dan ohh.. dia tidak tahan dan menggulingkan tubuhku dan aku ditindihnya kuat kuat. Kemaluannya tidak lepas dari lubangku. terus menancap keluar masuk. tatkala ia berada diatasku, ia memompaku keras keras. nikmat, ohh nikmat sekali tancapan tancapan kemaluannya di lobang kemaluanku yang hangat dan nikmat.

“Teruss, teruss..” aku berteriak minta lebih oleh nikmat.
Dan pembantu laki laki ku menerjang nerjang semakin kuat, sampai akhirnya dia menggigit leherku dan menggeram kuat kuat. Tembakan kemaluannya meledak ledak kearah bongkahan pantatku. Kemaluannya didalam lobang nikmatku berpendar, enak sekali. Otomatis, entah bagaimana, lobang nikmatku meremas remas kemaluannya. Dan aku menggeram. Kemaluanku terasa mengencang dan cairan meleleh darinya banyak sekali. Ohh, nikmatnya, nikmatnya!

Aku tertidur dengan senyuman bahagia sejak itu. Dan pembantu laki lakiku mmengajari lebih banyak hal lagi, tentang bagaimana mengulum ngulum kemaluan laki laki dengan hebat agar si laki laki berteriak teriak nikmat. Aku berbakat, dengan cepat mulutku tidak cuma merasakan hangat dan kerasnya kemaluan pembantu laki lakiku. Tapi banyak lagi laki laki dari desa tempatku berasal. Semua puas. Semua bahagia dengan pelayananku. Lubangku sekarang juga sudah semakin mahir. Dia masih kencang, hangat, dan hebat, tapi tidak lagi merasakan sakit saat penis yang keras dan tajam pertama kali mendesak masuk.

Semakin bertambahnya usia semakin jarang kesempatan yang aku dapat, karena aku malu menggoda laki laki yang lebih muda, dan laki laki yang lebih tua kebanyakan sudah kawin, aku lebih takut lagi kalau ketahuan istrinya, dan kedokku sebagai pemuas nafsu murahan terbongkar.

Aku masih sexy. Pantatku lembut dan nikmat. Bibirku penuh dan merekah. tapi, kenapa aku harus kesepian ya? Ohh, seandainya saat ini ada kamu, laki laki yang akan memuaskanku dengan keras dan nikmatnya kejantananmu, aku akan bahagia. Mulut dan lidahku akan bahagia mengusap usap dan menghisap hisap indahnya lekuk dan liku kemaluanmu. Dan lobangku? ohh.. dia akan merekah seperti bunga menantikan kamu menghujam dan menggaruk garuk kedalamannya dengan kepala pistolmu sampai kamu puas dan membasahi lubang cintaku dengan cairan cintamu.

Ohh, seandainya, seandainya. Tapi lihat aku disini, bermimpi dan kesepian. Takut satu saat aku mati sendiri tanpa cinta. Aku kesepian. Aku sungguh kesepian. Tolonglah aku, dan aku akan mengirimimu foto tentang indahnya tubuh, bibir, dan pantatku.

TAMAT

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Anita Kakak Iparku

Namaku Andi. Aku seorang pria dengan tinggi badan sekitar 170 cm dan berat badan 75 kg. Aku termasuk orang yang pemalu. Aku berasal dari keluarga yang sangat menjunjung tinggi nilai agama.Hampir semua saudara wanita sepupuku menggunakan jilbab, karena aku membaca cerita2 porno, gambar porno dan akhirnya berujung pada masturbasi. Aku punya kebiasaan ini semenjak aku mengenal internet karena pengaruh kawan-kawanku di kampus dulu.Kebiasaan jelek ini tidak bisa aku hilangkan meski aku sudah beristri sekalipun. Dari sekian banyak cerita porno, aku paling terangsang ketika membaca cerita hubungan sedarah. Dan di saat sekarang, aku langsung teringat akan Anit. Aku jadi terobsesi ingin mempraktekkan apa yang ada di cerita-cerita tersebut pada diriku. Tapi apa daya, aku seorang pemalu, Anit juga seorang yang sangat sholehah, bahkan di hadapanku masih juga menjaga jaraknya. Aku memutar otak bagaimana caranya bisa dekat dengan Anit tapi tetap tak bisa sampai aku putus asa.

 

Sampai pada satu hari yang sangat tak diduga,aku sampai di rumah pada siang hari. Hal ini jarang terjadi karena aku biasanya pulang paling cepat jam 6 sore. Tapi hari itu, semua karyawan dipulangkan lebih awal. Aku sampai ke rumah sekitar pukul satu siang. Kuketuk berkali-kali pintu rumah, tak ada jawaban. Mungkin karena rumah kami sangat panjang hingga ketukan tak terdengar. Akhirnya aku buka pintu, ternyata tidak dikunci. Kudengar suara televisi lumayan keras dan aku pun langsung menuju ke kamarku yang melewati ruang tamu. Alangkah terkejutnya aku melihat sesosok tubuh wanita berpakaian sexy terhampar di hadapanku. Aku melihat Anit sedang tertidur di atas karpet dan Anit mengenakan daster tipis.Mungkin ia mengenakan itu karena hari yang sangat panas siang itu. Tangannya memegang remote yang hampir terlepas.

Dan yang paling indah, sebuah payudaranya nongol keluar karena dia lagi menyusui anaknya yang paling kecil. Dua anak yang lainnya sedang tertidur di kamar yang lain. Aku tercengang melihat kejadian tersebut. Saat-saat yang kuimpikan akhirnya terjadi juga. Aku bisa melihat wajahnya yang putih tanpa jilbab ditambah bonus sebuah payudaranya yang indah dengan ukuran sekitar 36B. Woww..indahnya. Aku terdiam sejenak di hadapannya. Dengan segenap keberanian aku dekatkan diriku menuju Anit.Aku dengan malu malu mau menggerakkan tanganku menyentuh putingnya sedikit saja. Ternyata Anit sama sekali tak bergerak, mungkin saking lelap tidurnya. Akhirnya aku beranikan diri, aku angkat anaknya yang paling kecil dan kupindahkan ke kamar dengan hati-hati. Akhirnya tinggal Anit sendirian tertinggal di ruang tamu. Aku dekati tubuh Anit, kemudian aku ulangi sekali lagi perbuatanku dengan menyentuh putingnya. Kumainkan putingnya dan lama-lama putingnya tegak berdiri. Aku yang pemalu tapi lebih tak tahan lagi menahan napsuku, akhirnya aku beranikan mulutku menyusui putingnya yang sudah menegang. Ohhh nikmatnya puting susu Anit…ada ASInya lagi. Ohhh..enak banget. Suara desahan pun terdengar sedikit-sedikit, aku perhatikan wajah Anit,ternyata matanya masih tertutup rapat. Aku makin menggila, kubuka semua pakaianku sehingga aku sekarang telanjang. Aku dekati lagi Anit dan kubuka perlahan lahan daster tipisnya.

Sekarang keadaan sudah seimbang. Anit dan aku sudah sama sama tidak berpakaian.Aku yang pemalu sepertinya sudah hilang kemaluanku, tapi “kemaluanku” yang lain justru tambah membesar menyaksikan tubuh polos yang sudah lama kuidam-idamkan. Anit masih tertidur dengan pulasnya.Aku dekati lagi wilayah yang cukup lebat untuk area Miss-V nya.Meskipun lebat, tetapi bulunya tipis2. Aku sangat suka sekali dengan bulu2 ini.Kujilati vaginanya,kucari klitorisnya..oh enak banget..asin2 seperti punya istriku. Semakin lama kusedot-sedot vaginanya, tubuh Anit makin mengelinjang-gelinjang. Akupun semakin bersemangat, aku mainkan juga kedua payudaranya sambil terus menyedot-nyedot vaginanya.Semakin lama tubuh Anit semakin bergerak tak beraturan dan akhirnya vaginanya mengeluarkan cairan2 bening yang cukup banyak. Terdengar suara lenguhan kecil olehku, sepertinya Anit sudah mencapai orgasmenya yang pertama. Kulihat lagi wajah Anit, dadanya turun naik seperti telah mandaki gunung yang tinggi.

Pelan-pelan matanya terbuka dan alangkah kagetnya dia melihat seorang lelaki di hadapannya tanpa memakai busana sehelai pun. Dan yang lebih mengagetkannya ternyata lelaki di hadapannya adalah adik iparnya sendiri yaitu aku. Seperti langsung tersadar, dia menjerit tak terlalu keras kepadaku. “Andi, teganya kamu berbuat itu kepada kakak!”. Anit langsung pergi berlari menuju ke kamar anak-anaknya yang sedang tertidur. Aku pun melongo seperti kehilangan akal. Pikiranku pun mulai kembali normal. Yah kepalaku langsung pusing memikirkan apa yang barusan terjadi.Aku takut sekali kalau Anit melaporkan apa yang terjadi barusan apalagi melaporkannya kepada istriku yang sangat pencemburu berat.

Aku terdiam beberapa saat dan pelan-pelan kukenakan kembali pakaianku dan menuju ke kamarku. Di dalam kamar, aku tidak bisa tenang. AKu bingung bagaimana berhadapan dengan Anit lagi.Akhirnya aku membulatkan tekad untuk menuju ke kamarnya. Aku akan meminta maaf. Sambil kubawa segelas air putih menuju kamarnya.
AKu ketuk pintu kamar Anit. “Kak, bisa bicara sebentar. Aku mohon maaf atas kejadian tadi, aku khilaf Kak.”.
Tidak ada jawaban dari kamarnya untuk sejenak. Kembali aku berucap kepada Anit. “Kak,sekali lagi aku mohon maaf atas kekhilafanku tadi. Entah setan mana yang menggodaku tadi.”
Akhirnya kudengar sahutan dalam kamar walaupun sangat pelan.
“Kakak akan memaafkan dengan satu syarat” terdengar suara serak Anit.
“Iya Kak, apapun syaratnya akan kupenuhi asal Kak Anit memaafkan aku. Tapi please keluar sebentar, aku ingin berbicara langsung dengan Kakak disini untuk menunjukkan penyesalanku.”
Terdengar suara pintu kamar terbuka, kulihat Anit sudah berpakaian lengkap seperti biasa dengan jilbab besarnya.
“Tega kamu Andi, kenapa kamu melakukan ini kepada Kakak. Kamu kan tahu Kakak sudah punya suami dan yang penting Kak Anit adalah kakak istri kamu. Apa kamu tidak kasihan kepada istri kamu, kepada suami kakak dan kepada kakak sendiri?” pertanyaan Anit mencecar bertubi-tubi datang kepadaku.
“Iya Kak, aku sekali lagi menyesal,maafkan kelakuan bodohku tadi.Sekarang aku mau tanya. Apa syarat kakak Anit tadi?” aku mengajukan pertanyaan kepada Anit. Anit masih terpaku seakan masih tidak percaya hal yang barusan terjadi kepadanya. “Satu syarat yang ingin kakak ajukan adalah jangan kamu ceritakan hal yang terjadi barusan!”
Seperti mendapat durian runtuh, syarat itu memang sangat mudah kulakukan karena siapa yang mau menceritakan aibnya kepada keluarga apalagi istriku.
“Pasti Kak,itu akan kulakukan. Terjun dari gunung pun akan aku lakukan demi menebus dosa aku tadi. Sekarang Kak Anit sudah tenang Kan?”. Anit pun sepertinya masih shock dengan kejadian tadi. Aku pun lalu menyodorkan segelas air putih yang kubawa tadi untuk menenangkan Anit. “Minumlah Kak, supaya Kakak tenang. Anggap ini permohonan maaf sekali lagi dari aku”. Anit pun menerima segelas air putih yang kusodorkan dan meminumnya seperti kehausan sekali. Sekilas senyum muncul di bibirku karena ternyata rencanaku sebenarnya bukan untuk menenangkannya, tetapi melanjutkan kenikmatan yang tertunda.

Tanpa Anit sadari, segelas air putih itu sudah aku taburkan obat perangsang. Aku pun dengan cepat memohon diri kepada Anit untuk kembali ke kamarku dengan alasan ingin mandi dan tidur. Aku berjalan dengan perasaan sudah menang. Aku yakin sekali tidak lama lagi Anit akan gelisah dan mencari pelampiasan. Ya siapa lagi kalau bukan aku..hahahah. Di kamar, aku buka bajuku kembali dan menuju kamar mandi bertelanjang bulat.

Kenikmatan yang tertunda tadi aku teruskan di kamar mandi dengan bermasturbasi. Sengaja aku buka pintu kamarku dan kamar mandiku dengan harapan Anit datang ke kamarku dan mendapati aku sedang bertelanjang.Dengan khayalan yang belum menjadi kenyataan, aku bermasturbasi mengkhayalkan kembali tubuh Anit yang sexy yang baru kurasakan hanya sejenak. Tepat seperti dugaanku, samar-samar kulihat sesosok tubuh berjilbab mendekati kamarku.
Seperti salah tingkah, Anit memanggil-manggil namaku.
“Andi, keluar sebentar, ada yang mau kakak bicarakan lagi.”. Aku sebetulnya mendengar apa yang Anit bicarakan, tapi aku ingin memancing Anit seperti rencanaku.
” Masuk lah Kak ke kamar, pintunya kan terbuka, tanggung aku lagi mandi” jawabku.

Anit pun masuk ke kamarku yang terbuka dan ia semakin gelisah mendapatiku sedang bertelanjang bulat di kamar mandi. Aku yang sudah merencanakan hal ini langsung pura-pura keluar dari kamar mandi dengan sabun yang banyak menyelimuti badanku terutama kontolku yang sudah kukocok-kocok dari tadi. Anit terhentak sejenak dan menjerit, tetapi tidak seperti jeritan sebelumnya, tapi sedikit terdengar suara jeritan yang genit.
” Maaf ya Kak,aku begini,apa yang mau kakak bicarakan?”. Anit yang salah tingkah akhirnya mendekatiku dengan malu-malu tetapi terlihat obat perangsang yang sepertinya sudah sangat bekerja dengan baik.
“Ini lho Andi, air di wc kakak kecil airnya, boleh kakak numpang mandi disini?’ Hahaha..dengan tanpa malu-malu lagi menatapku,Anit melontarkan permintaannya dan memang itu yang kuharapkan.
“Ooo gitu Kak, sekalian saja mandi bareng ya Kak, aku juga kan lagi mandi seperti yang Kakak lihat” itulah jawaban beraniku sambil terus memainkan burungku yang cukup besar ini.

Seperti tidak sabar, akhirnya Anit melepaskan semua pakaiannya dan bertelanjang bulat dan akhirnya masuk ke kamar mandi. Aku sangat girang sekali mendapatinya dalam keadaan ini. Akhirnya ia pun mandi dan tanpa menunggu aku pun membantunya mandi dengan mengusapkan sabun yang ada di tanganku.
“Ini Kak, aku bantu sabuni yah, biar bersih” Anit tidak menjawab, ia hanya menikmati saja apa yang terjadi.

Akhirnya aku sentuh badannya, aku sabuni perutnya, payudaranya yang montok dan vaginanya yang halus. Anit hanya mendesah-desah mendapatkan perlakuan seperti itu. Aku pun semakin menjadi, kumainkan klitorisnya dengan tanganku dan respon dari Anit pun semakin menjadi. Tubuhnya menggelinjang menggila. AKu pun sudah tak tahan. Kubaringkan ia di Bath Tub, kubuka lebar kakinya. Dan seperti sudah tidak tahan, Anit pun turut membantu melebarkan kakinya.

Akhirnya saat yang dinanti pun tiba. Kugesek-gesek penisku di lubang vaginanya, anit makin tak tahan.
“Masukkan aja cepat Andi, Kakak sudah gak tahan!”
“Pasti Kak..Kakak cantik sekali seperti bidadari Kak..aku suka ama Kakaka..apalagi ternyata memek kakak masih sempit”
Oooooh..kumasukkan sedikit-sedikit kontolku yang menegang dan akhirnya masuk juga menerobos memeknya Anit.
“OOOOooooh..Andi..terus ..Andi..ayo cepat..aahhhh..”
Kupacu semakin cepat gerakanku berirama dan Anit pun mengikuti gerakanku dan akhirnya akan samapai juga pada puncak kenikmatan.
“Ooooh..Andi Kakak mau keluar..oohhh…” ceracau Anit.
“Andi juga mau nyampe kak..dikeluarin dalem atau di luar Kak…Ooooohhh?”
” Teruss Andi goyang Andi..dalem aja biar nikmat..ohhhhh..terus”

Dan akhirnya Anit pun mengejang keras sekali mencapai puncak kenikmatan. Tubuhnya mengejang sejenak terdiam dan kontolku merasakan sekali sensasi ini. Memeknya mengurut-urut keras kontolku yang juga akan menyemburkan lahar panasnya. “Oooh..Andi..Kakak nyampe…ohhh..ayo keluarin aja di dalam..”
Aku pun terus berpacu dan akhirnya keluarlah peluru-peluru pamungkasku di dalam memeknya yang sempit ini. Sekali lagi tubuh Anit tergetar hebat bersamaan dengan badanku yang mengejang hebat merasakan sensasi ini. Akhirnya kami pun terdampar lemas di Bath tub sejarah percintaan kami.

Setelah beberapa saat, kami pun lanjutkan di atas kasur dengan berbagai gaya dan cara. Saat itu adalah saat yang sangat menyenangkan sekaligus menegangkan dalam hidupku. Bisa-bisanya aku yang cukup alim (di pandangan keluargaku) bermain sex dengan Anit yang justru berjilbab besar.

Akhirnya waktu berlalu. Kejadian aku dengan Anit pun hanya menjadi rahasia kami berdua. Anit sepertinya menyesal telah melakukan hal tersebut, karena terlihat ia sering menghindariku saat berdua. Mungkin ia sadar kalau ia melakukan sex denganku dalam keadaan minum obat perangsang alias ia tidak sadar. Dan akhirnya peristiwa itupun hanya jadi kenangan kami berdua saja. Aku barharap kejadian seperti ini bisa berulang walau aku tak tahu kapan hal seperti ini terjadi lagi.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Berawal Dari Pelecehan Seksual

Selesai belanja di Malioboro, aku berniat ke rumah oom-ku di daerah Umbulharjo. Aku menghentikan bus kota jalur 04 yang lewat namun ternyata aku tidak mendapat tempat duduk karena bus kota sudah penuh terisi penumpang. Dengan sedikit mendongkol terpaksa aku berdiri bersama beberapa penumpang lainnya. Ketika melewati Kantor Pos Besar, bus tersebut berhenti sejenak untuk mencari penumpang namun tak lama kemudian bus kota yang aku tumpangi menjadi penuh sesak oleh penumpang yang beratribut Partai Keadilan Sejahtera. Siang ini agaknya Partai Keadilan Sejahtera baru saja selesai mengadakan kampanye di Alun-Alun Utara kota Jogjakarta.

 

Dalam waktu sekejap bus kota jalur 04 yang aku tumpangi penuh oleh kader dan simpatisan partai tersebut yang kebanyakan perempuan dan anak-anak. Aku yang sebelumnya tidak mendapat tempat duduk akhirnya harus terjepit oleh sesaknya penumpang peserta kampanye tersebut.

Walaupun semula aku merasa kesal karena harus berdiri dalam bus kota, namun sekarang aku menjadi gembira setelah bus kota yang aku tumpangi menjadi penuh sesak oleh Kader dan Simpatisan PKS yang kebanyakan para perempuan berjilbab lebar itu. Selama ini aku memang terobsesi dengan para perempuan cantik berjilbab lebar dan berpakaian panjang tertutup. Bagiku kemulusan tubuh yang tersembunyi dalam pakaian panjang mereka adalah misteri yang menimbulkan rasa penasaran. Rasanya sebuah sensasi tersendiri bila bisa menyingkap pakaian panjang yang mereka pakai sedikit demi sedikit hingga terlihat kemulusan mereka yang tersembunyi.

Di kampusku banyak mahasiswi aktivis PKS ataupun KAMMI dengan jilbab mereka dan lebar serta jubah panjang yang menutupi hingga mata kaki. Seringkali aku dan beberapa teman di kampus menggoda mereka bahkan pernah mencolak-colek pada bagian-bagian sensitif mereka, biasanya mereka hanya menunduk dengan wajah memerah.

Siang ini aku bagaikan ber’pesta’ dengan penuhnya bus yang aku tumpangi oleh para perempuan berjilbab lebar aktivis Partai Keadilan Sejahtera yang baru saja mengikuti kampanye. Aku melihat para aktivis PKS ini masih berusia relatif muda walaupun ada beberapa di antara mereka adalah ibu-ibu muda yang membawa anak-anak mereka.

Dalam beberapa detik kemudian, penisku menjadi tegang karena berdesak-desakan dengan puluhan aktivis wanita PKS ini dalam bus kota ini. Bau keringat tubuh para perempuan berjilbab lebar ini sungguh membuatku terangsang apalagi aku melihat wajah para aktivis PKS yang ada dalam bus ini rata-rata berwajah cantik menawan termasuk salah seorang dari mereka yang begitu dekat denganku. Aktivis wanita Partai Keadilan Sejahtera yang berdiri sangat dekat denganku adalah seorang ibu muda berusia sekitar 30 tahunan, berjilbab putih lebar dan berjubah panjang warna coklat sementara kakinya terbungkus kaus kaki warna krem. Wajahnya bersih menawan dengan kulit putih yang mulus. Tubuhnya yang terbalut jubah panjang warna coklat tampak masih sexy dan sintal ketika kulihat tonjolan-tonjolan beberapa bagian tubuhnya tercetak jelas pada jubahnya. Wanita PKS ini naik bersama kedua anak perempuannya yang masing- masing berusia sekitar 5 tahun dan 3 tahun sehingga dia terlihat sedikit kerepotan, entah di mana suaminya. Semula dia berdiri berhadapan denganku sehingga mataku bisa menikmati kemontokan buah dadanya walaupun sudah tertutup oleh jilbab putih yang lebar.

Aku menjadi bernafsu melihat sepasang bukit di dada wanita PKS ini yang terbalut jilbab putih. Namun bukit montok di dada ibu muda ini tak dapat aku nikmati lama, karena wanita PKS ini berubah memunggungiku. Mungkin karena merasa risih melihat tatapan mataku yang yang tak pernah lepas dari dadanya yang membukit, akhirnya wanita PKS ini berubah menjadi memunggungiku. Wajahku sempat memerah namun sesaat kemudian aku menyeringai penuh nafsu, karena setelah wanita PKS memunggungiku justru aku disodori pantatnya yang montok dan bundar walaupun masih tertutup jubah panjangnya..

Wanita PKS ini memang memakai jubah panjang berwarna coklat namun jubah tersebut tak mampu menyembunyikan pinggulnya yang besar dan pantatnya yang montok dan bundar menggemaskan. Aku menjadi bernafsu melihat belahan pantat wanita PKS dengan garis celana dalam yang dipakainya tercetak cukup jelas pada jubah panjangya.

Aku menelan ludah berulang kali dengan birahi yang mulai naik melihat pantat wanita PKS yang montok ini. Penis dalam celanaku yang sudah tegang sejak para perempuan berjilbab lebar aktivis PKS ini masuk ke dalam bus yang aku tumpangi, menjadi semakin keras melihat kemontokan pantat wanita PKS di depanku ini. Libidoku mulai terangsang ketika aku mendekatkan diriku pada tubuh wanita PKS ini sehingga akhirnya
penisku yang tegang dalam celanaku menempel pada belahan pantat ibu muda berjilbab yang memakai jubah panjang ini.

Aku mendesah lirih ketika kurasakan batang penisku yang tegang dalam celanaku kemudian terjepit oleh belahan pantat wanita PKS yang terasa padat dan montok, walaupun masih tertutup jubah panjang yang dipakainya. Celana yang aku pakai adalah semacam celana Hawwai, sehingga ketika penisku tegang terlihat sangat menonjol apalagi aku mempunyai ukuran penis yang besar dan panjang. Rupanya ibu muda ini merasa risih dengan penisku yang menempel pada belahan pantatnya saat kulihat dia berusaha menghindar dariku, bahkan matanya melirik ke arahku dengan sorot mata yang tajam mengandung kemarahan.

Aku pura-pura tak tahu ketika wanita PKS ini melirik ke arahku dengan sorot mata berkilat-kilat marah tersebut. Aku tetap menempelkan bagianpenisku pada bagian belakang wanita PKS di depanku ini. Setiap kali wanita PKS ini berusaha menghindar, aku selalu memburu mendekatinya hingga penisku yang tegang dalam celanaku tetap menempel pada belahan pantat ibu muda berjilbab aktivis PKS ini. Bus kota yang penuh sesak akhirnya menghentikan usaha wanita PKS untuk menghindar dariku. Aku melihat wanita berjilbab aktivis PKS ini hanya pasrah ketika penisku kembali menempel pada belahan pantatnya yang montok dan padat menggiurkan. Aku sempat melihat wajahnya menjadi merah padam ketika dia kembali melirik ke arahku tapi aku pura-pura tak melihatnya. Sesaat kemudian aku asyik menggesek-gesekan penisku yang tegang dalam celanaku pada belahan pantat wanita PKS di depanku dengan rasa nikmat. Goyangan bus kota yang melaju pelan telah menyembunyikan ulahku ini dan membuat para penumpang lain tidak curiga atas apa yang sedang aku lakukan pada wanita PKS di depanku ini. Ketika aku asyik mengesek-gesekkan penisku pada pantat montok wanita PKS yang padat dan montok ini, salah seorang wanita PKS berkacamata mengajak ngobrol wanita PKS yang sedang aku nikmati pantatnya yang montok ini.

Aku menjadi semakin terangsang mendengar obrolan yang kemudian terjadi karena wanita PKS yang sedang aku nikmati pantatnya ini ternyata mempunyai suara yang merdu agak mendesah saat dia melayani obrolan temannya tersebut..

Dari obrolan tersebut aku mengetahui kalau wanita PKS yang sedang aku nikmati pantatnya ini adalah seorang ibu muda yang telah mempunyai tiga orang anak, namun dalam kampanye di Alun-alun Utara dia hanya membawa dua anaknya sementara yang paling kecil ditinggal di rumah bersama neneknya. Selain itu aku juga mengetahui kalau wanita PKS yang tengah menjadi obyek pelecehan seksualku ini bernama Nurul dan tinggal di Kotagede, suaminya bernama Ari, seorang pegawai di Dephut Yogyakarta yang sedang bertugas di Kalimantan sejak 3 bulan yang lalu. Mendengar cerita ini aku menjadi ingat kalau Omm-ku di Umbulharjo juga pegawai Dephutdi bagian Personalia eentah apa jabatannya.

Aku mendengarkan obrolan kedua wanita aktivis PKS tersebut sambil terus menggesek-gesekan batang penis dalam celanaku pada pantat salah satu dari mereka. Penisku yang tegang merasakan sebuah kenikmatan saat bergesekan dengan belahan pantat Mbak Nurul yang masih berjubah panjaNg ini. Nafsuku kian menggeGak oleh rangsangan birahi, terlebih bau keringat Mbak Nurul tercium oleh hidungku yang membuatku kian terangsang.

Di perempatan Gedongkuning, bus kota yang aku tumpangi mulai berkurang isinya. Para perempuan berjilbab lebar aktivis PKS kebanyakan turun di perempatan ini termasuk aktivis PKS berkacamata yang mengajak ngobrol Mbak Nurul. Bus kota yang semula penuh sesak oleh para perempuan aktivis PKS menjadi lebih longgar, namun aku dan Mbak Nurul serta beberapa penumpang lainnya masih harus tetap berdiri karena seluruh bangku bus masih terisi oleh penumpang. Setelah menurunkan penumpang di perempatan Gedongkuning buskota itupun kembali berjalan ke arah Terminal. Dadaku berdegup kencang ketika ternyata Mbak Nurul tidak bergeser dari tempatnya walaupun bus kota sudah terasa lebih longgar. Pantat montoknya yang padat dan bundar dalam jubah coklatnya masih tetap menempel ketat pada batang penisku yang tegang dalam celana Hawwai yang aku pakai.

Aku baru menyadari kalau Mbak Nurul diam-diam ikut menikmati batang penisku yang tegang menempel pada belahan pantat dalam jubahnya itu. Memang Mbak Nurul berdiri di sebelah bangku yang diduduki kedua anaknya, sehingga terkesan sedang menjaga kedua anaknya namun ketika aku merasakan Mbak Nurul juga menekan pantatnya ke arah penisku, aku tahu kalau wanita PKS ini juga ikut menikmati pelecehan seksual yang tengah aku lakukan kepadanya. Aku menjadi semakin bergairah mengesek-gesekkan batang penis yang tegang dalam celanaku, di antara belahan pantat montok dalam jubah yang dipakai Mbak Nurul tersebut. Aku baru teringat kalau wanita PKS ini sudah 3 bulan ditinggal suaminya tugas di Kalimantan, tentu saja selama itu dia tidak pernah mendapat nafkah biologis. Bahkan tak lama kemudian, aku mendengar nafas Mbak Nurul memburu sedikit terengah walaupun aku tak mampu melihat ekspresi wajahnya karena dia memunggungiku. Nafasku jadi ikut terengah menahan birahi dan libidoku terasa semakin menggelegak.
“Kotagede..Kotagede..” teriak kondektur tiba–tiba. Mbak Nurul tampak tersentak kaget dan buru-buru dia berteriak “Kiri..pak..kiri” seru Mbak Nurul dengan suaranya yang merdu. Kondektur bus kota pun memberi isyarat kepada sopir untuk berhenti dan sesaat kemudian bus kota itupun menepi dan akhirnya berhenti.

Aku mendengus kecewa, karena aku sedang asyik menggesek-gesekkan batang penisku di antara belahan pantat mbak Nurul yang montok harus terputus. Dengan sorot mata kecewa aku memperhatikan wanita PKS ini yang bergegas menarik tangan kedua anak perempuannya tersebut. Saat Mbak Nurul meraih tangan kedua anaknya, matanya sempat melirik ke arahku beberapa saat. Aku terpesona melihat lirikannya yang tiba-tiba menjadi sangat mempesona. Wajahnya yang terbalut jilbab putih lebar nampak bersemu kemerahan dan tatapan matanya tak lagi garang seperti semula namun justru tampak sayu seperti orang kehausan. Mata bulat Mbak Nurul hanya sekejap melirik ke wajahku karena kemudian lirikannya beralih ke arah selangkanganku yang jelas terlihat tonjolan penisku yang tertutup celana Hawwai. Darahku berdesir ditatap wanita PKS seperti ini apalagi ketika Mbak Nurul menggandeng kedua anak perempuannya lewat di depanku menuju pintu, entah sengaja atau tidak punggung tangan ibu muda berjilbab lebar ini menyenggol batang penisku bahkan menekannya sekejap yang membuatku berdesah kaget.

Aku tidak menyangka kalau wanita PKS yang terlihat alim ternyata bisa berbuat cabul juga seperti Mbak Nurul ini. Mataku lekat penuh nafsu mengikuti gerak-gerik Wanita PKS yang sedikit tergesa-gesa turun dari bus kota hingga akhirnya ibu muda dan kedua anaknya telah berdiri di trotoar. Aku mengerdipkan mataku sambil tersenyum nakal ketika bus kembali berjalan meninggalkan Mbak Nurul yang masih berdiri di trotoar bersama kedua anaknya.

Aku berharap wanita PKS ini membalas senyumanku atau kerdipan mataku, namun yang kulihat justru wajahnya sekan tersentak kaget lantas menjadi merah padam sebelum ibu muda berjilbab ini memalingkan wajahnya dariku.Melihat hal ini senyuman nakalku menghilang dan dalam hati aku
mengumpat “Huh..Sok Alim !!” Tak lama setelah Mbak Nurul turun dari bus kota, aku juga turun. Kemontokan pantat Mbak Nurul yang padat dan kenyal masih terasa di batang penisku. Sesampainya di rumah oom-ku aku mencari tempat untuk beronani menuntaskan hasratku yang terputus di bus kota.

Aku mengocok penisku sambil membayangkan menyetubuhi pantat montok Mbak Nurul, seorang aktivis wanita PKS yang telah aku lecehkan dalam bus kota siang ini. Dalam waktu beberap menit aku mengerang penuh kenikmatan sambil menyebut nama wanita PKS yg sintal itu. Seusai menuntaskan hasratku timbul keinginananku untuk memburu wanita PKS yang aku lecehkan dalam bus kota siang ini. Kebetulan oom-ku adalah Kabag Personalia di Dephut Yogyakarta mungkin dari situ aku bisa mendapatkan data tentang wanita PKS yang bersuamikan pegawai Dephut.

Aku beristirahat sejenak dalam kamar yang disediakan tanteku sebelum sorenya aku menemui oom-ku untuk menanyakan nama Ari dari Dephut yang saat ini sedang bertugas di Kalimantan. Rupanya aku memang beruntung, karena data tentang laki-laki bernama Ari yang aku dapatkan dari suami adik kandung mamaku ini cukup lengkap. Dalam komputer database Dephut milik oom-ku ada nama Ari yang aku cari lengkap dengan data-data tentang keluarganya bahkan ada foto dirinya bersama istri dan kedua anaknya. Karena ada foto istrinya yang tak lain adalah Mbak Nurul dalam foto tersebut, aku meyakini bahwa nama Ari inilah yang sedang aku cari. Aku melihat suami Mbak Nurul ternyata bukan laki-laki yang tampan, tubuhnya juga ceking hanya memang kulitnya putih bersih.

Dalam data tersebut tertulis nama panjang mbak Nurul adalah Nurul Qomariyah S.Psi, tahun ini usianya sudah 31 tahun dan dia adalah alumnus fakultas psikologi UGM. Kedua anaknya tertulis bernama Nidaul Jannah dan Choirunnisa yang memang baru berusia 5 dn 3 tahun saat ini. Dalam foto tersebut Mbak Nurul tampak cantik dengan jilbab lebar warna biru dongker dan jubah panjang warna ungu terong. Dalam foto tersebut terlihat jubah yang dipakai Mbak Nurul tampak membuncit pada bagian perutnya,agaknya foto ini diambil saat wanita PKS ini dalam keadaan hamil anak yang ketiga. Selain foto dan data tentang Mbak Nurul, aku juga mendapatkan alamat rumah Mbak Nurul di Kotagede. Sayang alamat tersebut tidak mempunyai nomor telepon untuk memastikan kebenaran alamat tersebut.

Aku memang berniat memburu wanita PKS yang menjadi korban pelecehan seksualku di bus kota siang ini.
Sekitar jam 8 pagi esoknya, aku benar-benar mencari alamat rumah Mbak Nurul di Kotagede. Alamat rumah tersebut termasuk mudah sehingga dalam waktu tidak terlalu lama aku berhasil menemukan rumah wanita PKS ini. Dadaku berdebar keras ketika aku telah berad di depan rumah Mbak Nurul, aku melihat Mbak Nurul sedang berada di teras rumahnya. Perempuan aktivis PKS ini terlihat sedang membaca majalah wanita Ummi sambil menggendong anak bungsunya yang pulas tertidur.

Ketika aku datang sambil memberi salam, wanita PKS ini menjawab salamku, menatapku dengan tatapan heran. Ketika aku mengaku dari Dephut sambil menyodorkan bukti yang kuambil dari oom-ku baru, aku dipersilahkan duduk di teras.
“Silahkan duduk dulu….Saya akan meletakkan anak saya di dalam “kata Mbak Nurul“Silahkan, Mbak ” sahutku sambil tersenyum.
Jakunku bergerak turun naik melihat pantat mbak Nurul yang montok dan bahenol bergoyang-goyang saat dia berjalan masuk ke dalam rumah sambil membawa anaknya. Jubah panjang warna biru muda yang dipakainya saat ini, tak mampu menyembunyikan kemontokan pantat wanita PKS yang sintal dan bahenol ini. Mataku melotot penuh nafsu dengan penis mulai menegang, melihat goyangan pantat wanita PKS ini sebelum hilang
di balik pintu. Tidak lama aku menunggu karena beberapa menit kemudian wanita PKS ini keluar lagi dengan wajah penuh tanda tanya.

Aku bersyukur ternyata wanita ini tidak mengenaliku sebagai pelaku pelecehan seksual terhadapnya di bus kota kemarin siang.

“Maaf..mas ada apa yah? tentang suamiku?” tanya Mbak Nurul . Aku tersenyum menatap wajah ayu wanita PKS ini. Pagi ini Mbak Nurul memakai jubah panjang warna biru muda dengan jilbab lebar warna putih berenda sementara kakinya terbungkus kaus kaki warna krem. Sesaat aku terpesona melihat kecantikan ibu muda berjilbab lebar ini.

“Maaf Mbak, ada berita yang ingin aku sampaikan tentang mas Ari, namun apa ada orang lain di rumah ini karena beritanya mungkin mengejutkan?” tanyaku “Ya..ada..adik ipar perempuan saya namun sekarang sedang mengantar kedua anak saya di TK dan Playgroup dan biasanya langsung pergi kuliah serta kedua mertua saya namun keduanya juga sedang mengajar di SMP dan baru pulang siang nanti. Ada berita apa?” jawabnya dengan nada cemas.

Aku mengangguk-angguk puas sambil berdiri” Ada musibah yang menimpa suami mbak, tapi sebaiknya aku sampaikan di dalam saja, jangan di teras ” kataku seraya menepuk pundak wanita PKS ini. Mbak Nurul terlihat kaget ketika pundaknya aku tepuk namun sedetik kemudian wanita PKS yang semula terlihat cerdas itu menjadi nampak linglung dengan sorot mata bingung.

Aku memang tengah menggunakan ilmu gendam yang aku miliki pada wanita PKS ini dan agaknya ilmu tersebut berpengaruh terhadapnya. Dengan menyeringai puas aku menarik Mbak Nurul untuk berdiri lantas aku rangkul pinggangnya yang masih ramping masuk ke dalam rumahnya.

Di dalam rumah Mbak Nurul, aku melihat rumah ini penuh dengan atribut Partai Keadilan Sejahtera. Muali dari pintu ruang tamu yang tertempel stiker PKS lantas di rak buku dalam ruang tamu tampak beberapa buku tentang Partai berlambang bulan sabit ini, hingga yang paling mencolok adalah lambang Partai Keadilan Sejahtera tergantung di dinding ruang tamu dengan ukuran cukup besar. Benar-benar keluarga aktivis PKS yang militan kataku dalam hati. Aku menatap wajah ayu Mbak Nurul yang terbalut jilbab lebar dengan penuh nafsu. Tanganku yang memeluk pinggang rampingnya tak tahan untuk menjamah pantat montoknya lantas dengan gemas tangaku meremas-remasnya.

Ibu muda aktivis PKS menjerit kecil ketika dengan gemas aku meremas-remas pantatnya yang bahenol dan montok. Birahiku sudah mulai naik ke ubun-ubun, penisku juga sudah mulai tegang dan mengeras. Aku mengunci pintu rumah Mbak Nurul lantas wanita PKS yang masih berpakaian lengkap ini aku tarik masuk ke dalam sebuah kamar, entah kamar siapa namun aku menduga kamar adik ipar Mbak Nurul karena di meja kamar tersebut ada sebuah foto wanita berjilbab lebar dalam bingkai namun wajahnya lebih mirip wajah suaminya. Latar belakang foto tersebut lambang Partai Keadilan Sejahtera, agaknya adik ipar yang kata Mbak Nurul masih kuliah ini juga aktivis PKS.

Mbak Nurul hanya terdiam ketika tubuhnya aku rebahkan di ranjang kamar adik iparnya sementara birahiku sudah naik hingga ke ubun. Sungguh aku tak menyangka begitu mudahnya aku memperdaya Mbak Nurul bahkan wanita PKS yang masih berpakaian lengkap dengan jilbab lebar dan jubah panjangnya kini rebah terlentang di atas ranjang depan mataku. Mataku melotot buas ketika kulihat tonjolan segitiga
pada bagian selangkangan Mbak Nurul yang tampak membukit pada jubah yang dipakainya. Gundukan di tengah selangkangan yang tampak menonjol membuat penisku terasa kian keras menegang oleh birahi dan aku tak tahan mengulurkan tanganku meremas-remas bukit kemaluan yang montok tertutup jubah Mbak Nurul. Mbak Nurul tersentak ketika tanganku meremas-remas bagian selangkangannya yang membukit, namun pengaruh ilmu gendamku yang ampuh membuat wanita PKS ini tidak melawan. Tubuh ibu muda yang alim ini hanya menggeliat-geliat saat jubah yang dipakainya menjadai kusut pada bagian selangkangan karena remasan tanganku. Mulutnya mendesah-desah dengan ekspresi yang membutaku libidoku semakin terangsang. Aku terkekeh melihat gelinjangan Mbak

Nurul yang alim ini saat bagian selangkangannya aku remas-remas. Puas meremas-remas tonjolan bukit kemaluan Mbak Nurul, mataku memandang wanita PKS yang terlentang di atas ranjang ini dari ujung kepalanya hingga ke kakinya. Ibu Muda aktivis PKS ini masih memakai jilbab lebar warna putih yang berenda, jubah panjang warna biru muda dan kaus kaki krem yang amsih membungkus kedua kakinya. Dengan birahi menggelegak, aku naik ke atas ranjang di dekat kaki Mbak Nurul yang terlentang.

Sesaat kemudian, tanganku terulur meraih kedua kaki Mbak Nurul yang masih terbungkus kaus kaki panjang warna krem. Hanya dalam waktu beberapa detik tanganku menarik lepas kedua kaus kaki krem tersebut dan aku lemparkan ke lantai kamar sehingga kaki wanita PKS ini telanjang. Mataku membesar ketika melihat kaki telanjang Wanita PKS berkulit putih mulus ini yang indah putih kemerahan. Kakinya yang halus dengan otot yang kebiruan terlihat sangat indah dan merangsang nafsuku membuatku tergerak untuk mengelus-elusnya. Selanjutnya kedua kaki Mbak Nurul yang telanjang itu aku angkat hingga di depan bibirku lantas dengan bernafsu bibirku mencium kaki wanita PKS ini mulai dari telapak kakinya yang halus kemerahan bahkan kemudian lidahku terjulur menjilatinya.

Dalam sekejap telapak kaki Mbak Nurul yang kemerahan itu menjadi basah kuyup oleh jilatan lidahku dan ciuman bibirku. Kian lama lidahku pun kian liar menjelajahi sela-sela jemari panjang dikaki Mbak Nurul yang halus kemerahan tersebut dengan nafas yang memburu. Aku kian asyik menjilati kaki wanita PKS ini terus ke atas melewati mata kakinya. Sementara tanganku dengan nakal menggerayangi betis wanita PKS di balik jubah panjangnya tersebut. Saat tanganku menyusup di balik jubah Mbak Nurul, aku mengetahui ternyata wanita PKS ini memakai rok dalam yang juga panjang hingga mata kaki.

Tanganku meraba-raba merasakan kemulusan betis Mbak Nurul yang masih tertutup jubah tersebut. Sepasang betis wanita cantik aktivis PKS yang kenyal ini terasa hangat dan lembut di tanganku yang mengelus-elusnya penuh nafsu. Bibir dan lidahku pun kian liar menjilati menikmati kemulusan kaki Mbak Nurul kian ke atas. Dengan bibirku aku menyingkap ujung jubah yang dipakai wanita PKS ini ke atas sehingga keindahan betisnya yang mulus mulai terlihat.Bibir dan lidahku terus bermain di kulit Mbak Nurul yang halus ini dengan penuh nafsu. Betis putih yang mulus dan ditumbuhi bulu-bulu nan halus ini dalam sekejap basah kuyup oleh jilatan lidahku dan ciuman bibirku. Nafasku memburu kian liar sementara ujung kain jubah yang dipakai Mbak Nurul kian tersingkap ke atas memperlihatkan betis yang putih dan mulus tersebut.

Aku membungkuk menciumi dan menjilati kemulusan betis telanjang ibu muda aktivis PKS yang berwajah cantik ini, sementara tanganku menyusup di balik jubahnya kian ke atas mengelus pahanya yang bulat padat tersebut. Sekujur betis putih Mbak Nurul yang mulus telah basah oleh jilatan dan ciumanku dengan birahi menggelegak. Ujung jubah biru muda yang dipakai ibu muda berjilbab pun tersingkap semakin ke atas, terdorong oleh bibir dan lidahku. Perlahan-lahan sepasang paha putih wanita PKS ini mulai terlihat bersamaan dengan jilatan dan ciumanku yang mulai merambah paha Mbak Nurul. Aku makin bernafsu merasakan kemulusan paha putih yang kencang dan bulat padat tersebut. Nafasku terengah-engah menahan birahiku sambil terus menciumi sekujur paha Mbak Nurul yang mulus tersebut. Sepasang paha yang selalu tertutup oleh pakaian panjang tersebut kini menjadi basah oleh jilatan lidahku yang semakin liar. Ujung jubah yang dipakai Mbak Nurul kian tersingkap ke atas yang akhirnya dengan bantuan kedua tanganku, pakaian panjang tersebut aku singkap hingga pinggang membuat bagian bawah tubuh wanita PKS kini telanjang.

Aku melotot penuh nafsu melihat pemandangan yang menggiurkan di depanku ini dan aku nyaris tak percaya. Seorang ibu muda alim berjilbab dan selalu berpakaian tertutup kini dalam keadaan setangah telanjang. Perempuan cantik berjilbab aktivis Partai Keadilan Sejahtera yang semula berpakaian
panjang hingga mata kaki, saat ini pakaian tersebut tersingkap hingga ke pinggangnya. Bagian atas wanita PKS ini masih nampak rapi dengan jilbab lebar yang membalut wajahnya, namun paha dan betisnya yang putih mulus menggiurkan kini telanjang tanpa penutup.

Aku mengakui rumor yang beredar bahwa para wanita berjilbab lebar seperti Mbak Nurul ini memang mempunyai tubuh yang lebih putih dan lebih mulus dibanding wanita lainnya. Semula aku mengira kemulusan Mbak Nurul ini seperti pacarku yang juga berkulit putih , namun saat ini aku mengakui kalau wanita PKS ini terlihat lebih mulus dan putih dibanding pacarku. Usai menciumi dan menjilati betis dan paha Mbak Nurul, mataku tak berkedip memandang tonjolan di tengah selangkangan Mbak Nurul yang montok membukit. Aku melihat kemaluan aktivis wanita PKS ini masih tertutup oleh celana dalam krem dengan ketat. Libidoku kian terasa liar melihat gundukan kemaluan Mbak Nurul yang menonjol menggiurkan. Beberapa saat lalu, nafsuku telah terangsang melihat gundukan montok di selangkangan wanita PKS ini saat terlentang namun jubahnya belum tersingkap. Bahkan saat itu dengan gemasnya aku meremas-remas gundukan kemaluan yang membukit itu, sehingga jubah tersebut menjadi kusut pada bagian selangkangan.

Saat ini aku melihat gundukan kemaluan montok tersebut hanya tertutup oleh celana dalam warna krem yang agak tipis, sehingga belahan bibir kemaluannya nampak jelas terbayang bahkan kelentit yang menonjol di antara bibir kemaluan wanita PKS ini terlihat sangat jelas. Bulu-bulu kemaluannya
yang hitam juga tampak membayang jelas pada celana dalam yang dipakai Mbak Nurul saat ini. Sungguh sebuah pemandangan yang menakjubkan dan ada sebuah sensasi sendiri saat aku berhasil melihat bagian vital seorang wanita aktivis PKS yang cantik seperti Mbak Nurul walaupun masih tertutup celana dalam. Tanganku memang telah merasakan kekenyalan bukit kemaluan Mbak Nurul, saat aku remas-remas sebelumnya tetapi ketika kulihat bentuknya ternyata sangat merangsang birahiku.
Aku memperhatikan wajah Mbak Nurul yang terlentang di depanku ini. Wajah ayu berbalut jilbab lebar itu tak lagi terlihat linglung seperti beberpa saat yang lalu. Wajah ibu muda aktivis PKS ini justru memperlihatkan ekspresi wanita yang tengah terlanda birahi. Aku menyeringai sejenak sebelum kemudian membenamkan wajahku di tengah selangkangan Mbak Nurul yang terasa hangat. Hidungku mencium bau kewanitaan Mbak Nurul yang segar dan wangi, jauh sekali perbedaannya dibanding bau kewanitaan pacarku. Aku semakin mendekatkan wajahku kearah bukit kemaluan Mbak Nurul, bahkan hidungku telah menyentuh kelentit yang tampak tercetak jelas pada celana dalam. Dengan nafas yang terengah-engah menahan birahi, lidahku terjulur menjilati kelentit yang menonjol di antara bibir kemaluan wanita PKS ini. Saat lidahku mulai menyapu kelentit Mbak Nurul di balik celana dalam warna krem itu, tiba-tiba pinggul wanita PKS ini menggelinjang dibarengi desahan ibu muda berjilbab ini. “Ahh…ahhhhh..ahhh”desah Mbak Nurul yang membuat libidoku semakin menggelegak.

Aku semakin bernafsu menjilati dan menciumi bukit kemaluan Mbak Nurul yang masih tertutup celana dalam. Setiap kali lidahku menyapu permukaan kemaluan Mbak Nurul atau bibirku menciumnya dengan penuh nafsu, wanita PKS berkulit putih ini menggelinjang dan mendesah-desah penuh birahi. Lidah dan bibirku seakan berebut merambah sekujur permukaan bukit kemaluan Mbak Nurul yang masih tertutup celana dalam, sehingga beberapa saat kemudian celana dalam yang dipakai wanita PKS ini menjadi basah kuyup. Celana dalam yang dipakai Mbak Nurul termasuk tipis, sehingga ketika celana dalam wanita tersebut dalam keadaan basah kuyup oleh jilatan lidahku, semakin terlihat jelas kemaluan wanita PKS ini. Belahan bibir kemaluan Mbak Nurul dengan kelentit yang menonjol di tengahnya, terlihat semakin nampak jelas. Bulu-bulu kemaluan yang tercukur rapi di bukit kemaluan ibu muda ini juga terlihat semakin jelas. Melihat pemandangan indah di selangkangan Mbak Nurul, aku menjadi tak sabar sehingga sedetik kemudian tanganku telah menarik turun celana dalam yang dipakai wanita cantik aktivis PKS yang alim ini. Sekejap kemudian celana dalam berwarna krem yang semula menutupi bagian vital Mbak Nurul, telah teronggok di bawah kakinya. Mataku melotot lebar melihat selangkangan wanita PKS yang alim ini, kini telanjang tanpa penutup sehelai benangpun.

“Ouhhhh….Mbak Nurul……”desisku melihat gundukan bukit kemaluan Mbak Nurul yang kini tak lagi tertutup celana dalam tersebut. Libidoku menggelegak melihat bagian paling pribadi wanita alim ini.

Aku membandingkan kemaluan Mbak Nurul dengan kemaluan pacarku. Aku mendapat kemaluan wanita PKS ini jauh lebih merangsang daripada kemaluan pacarku sendiri. Bibir kemaluan Mbak Nurul terlihat merekah kemerahan dengan kelentit menonjol kemerahan di tengahnya. Bulu-bulu kemaluan yang hitam legam tercukur dengan rapi, tampak kontras dengan putihnya bukit kemaluan wanita PKS ini. Ketika wajahku mendekat kemaluan yang telanjang tersebut, bau kewanitaan Mbak Nurul yang menyengat tercium di hidungku. Aku melihat kemaluan Mbak Nurul sudah basah oleh rangsanganku sebelumnya, bahkan ketika aku menguakkan bibir kemaluan wanita PKS ini cairan kenikmatan nya jatuh menetes membasahi sprei. Aku menjadi sangat terangsang melihat hal ini. Dengan bernafsu, aku menghirup dan menjilati cairan kenikmatan Mbak Nurul yang menetes dari kemaluannya. Lidahku merasakan asin saat lidahku menjilati cairan kenikmatan Mbak Nurul, lantas dengan birahi yang kian menggelegak lidahku menyapu kemaluan telanjang di antara paha wanita alim ini. Aku merasa paha Mbak Nurul bergetar lembut ketika lidahku mulai menjalar mendekati selangkangan wanita PKS ini. Mbak Nurul menggeliat kegelian ketika akhirnya lidahku itu sampai dipinggir bibir kewanitaannya yang telah terasa menebal. Ujung lidahku menelusuri lepitan-lepitan di situ, menambah basah segalanya yang memang telah basah itu. Terengah-engah, Mbak Nurul mencengkeram rambutku dengan satu tangan, perlahan menekan, memaksaku segera menjilat di daerah yang paling sensitif milik aktivis wanita PKS ini. Mbak Nurul menggelinjang-gelinjang hebat ketika lidah dan bibirku menyusuri sekujur kemaluan ibu muda ini. Mulut wanita aktivis PKS ini mendesah-desah dan merintih-rintih saat bibir kemaluannya aku kuak lebar-lebar dan lidahku terjulur masuk menjilati bagian dalam kemaluannya. Bahkan ketika lidahku menyapu kelentit Mbak Nurul yang telah mengeras itu, aku teruskan dengan menghisapnya lantas mengigitnya lembut. Mbak Nurul merintih hebat. Tubuhnya mengejang sampai punggungya melengkung bagaikan busur panah membuat dadanya yang montok membusung.

“Ahhhhh….ahhhhhh….ahhhhh”rintih Mbak Nurul dengan jalangnya disertai tubuh yang menggelinjang. Kembali kurasakan cairan kenikmatan membasahi kemaluan wanita aktivis PKS ini yang segera aku hirup dengan mulutku. Lidah dan bibirku makin liar menjilati di daerah paling pribadi Mbak Nurul yang kini sudah membengkak kemerahan. Gundukan kemaluan yang putih kemrah-merahan itu menjadi berjilat-kilat basah dan bulu-bulu kemaluan wanita PKS yang tercukur rapi pun menjadi basah kuyup oleh jilatan lidahku. Aku mengunyah-ngunyah kemaluan Mbak Nurul beberapa saat yang membuat ibu muda berjilbab lebar ini mengerang dan merintih dengan tubuh menggelinjang jalang. Lidahku menyusuri belahan kemaluan yang telah membengkak lantas sekujur permukaan kemaluan yang membukit montok hingga ke sela-sela kedua pahanya, kemudian menyusuri ke bawah hingga ke belahan pantat yang tampak.

Aku menjadi semakin gemas melihat belahan pantat Mbak Nurul yang terlihat sebagian, sehingga dengan bernafsu aku membalikkan tubuh wanita PKS yang terlentang menjadi tengkurap. Mataku melotot liar melihat pemandangan indah setelah Mbak Nurul tengkurap. Pantat wanita PKS yang montok dan telanjang tampak menggunung menggiurkan. Nafasku terengah penuh birahi memandang kemontokan pantat bundar Mbak Nurul yang putih mulus itu. Ingatanku melayang saat aku melakukan pelecehan seksual terhadap wanita PKS ini di bus kota.

Saat itu penisku yang tegang dan masih dalam celanaku aku gesek-gesekkan pada belahan pantat Mbak Nurul yang saat itu juga masih tertutup jubah panjang. Aku tidak menduga kalau saat ini, pantat wanita PKS yang montok itu dapat aku nikmati tanpa penutup sehelai benangpun. Birahiku kian menggelegak liar melihat pantat Mbak Nurul yang montok dan padat. Dengan gemas aku meremas-remas bukit pantatnya dengan tanganku lantas aku mendekatkan wajahku pada belahan pantat wanita PKS ini. Lidahku terjulur menyentuh belahan pantatnya kemudian dengan bernafsu aku mulai menjilati belahan pantatnya yang putih mulus tersebut. Mbak Nurul mendesah-desah dengan tubuh menggelinjang menahan birahinya, saat lidahku menyusuri belahan pantatnya hingga belahan kemaluannya yang kemerahan. Belahan pantat mulus Mbak Nurul yang putih dalam sekejap menjadi basah berkilat oleh jilatan lidahku.

Kemudian bibir dan lidahku secara bergantian menyusuri sekujur pantatnya yang menggunung indah bahkan dengan gemas aku mengunyah pantat montok wanita PKS ini. Tanganku juga menguak belahan pantat ibu muda ini dan selanjutnya lidahku menyapu daerah anus dan sekitarnya yang membuat Mbak Nurul mengerang penuh birahi. Puas menikmati pantat Mbak Nurul yang montok, aku kembali menelentangkan ibu muda berjilbab lebar ini. Mataku terarah pada sepasang payudara montoknya yang masih tersembunyi di balik jilbab dan jubah yang dipakai Mbak Nurul. Tanganku meraih jilbab lebar tersebut lantat menyingkapan hingga ke lehernya, kemudian dengan lincah jari-jari tanganku membuka kancing jubah yang dipakai Mbak Nurul. Perlahan kemudian kulit mulus Mbak Nurul yang mulus terlihat dan ketika kancing jubah yang hanya sampai atas perutnya terbuka seluruhnya, tanganku merogoh ke balik jubahnya lantas menarik sepasang payudara Mbak Nurul.

Akhirnya sepasang payudara wanita PKS yang semula tersembunyi di balik BH, tersembul keluar dengan puting susunya yang telah tegak mengeras. Buah dada Mbak Nurul nampak sangat montok dan indah. Buah dada yang putih mulus dengan puting susu yang kemerahan membuatku tak sabar untuk mengunyahnya. Sedetik kemudian, payudara wanita PKS ini telah berada dalam mulutku yang menngunyah-ngunyahnya dengan nafsu secara bergantian. Puting susu yang telah tegak mengeras aku hisap dan aku gigit-gigit membuat Mbak Nurul terpekik kecil menahan kenikmatan birahinya. Payudara Mbak Nurul yang putih mulus itu dalam sekejap basah dan penuh dengan bilur-bilur kemerahan bekas kunyahanku.

Aku sudah tak tahan menahan nafsuku. Jilbab lebar yang dikenakan Mbak Nurul aku lepaskan sehingga tergerai rambutnya yang hitam legam. Aku terpesona melihat kecantikan Mbak Nurul yang tidak lagi berjilbab tersebut. Wajah cantik wanita PKS ini semakin menawan dengan rambut hitam yang panjang ikal mayang membuat hatiku bergetar. Puas menikmati kecantikan PKS ini aku melucuti jubah biru yang dikenakan Mbak Nurul kemudian disusul sisa pakaian dalam yang masih melekat di tubuh ibu muda ini. Akhirnya tubuh wanita aktivis PKS yang semula tertutup rapat dengan jilbab lebar serta jubah panjangnya, saat ini telanjang bulat tanpa sehelai benangpun di tubuhnya.

Aku tidak menyangka kalau saat ini aku berhasil menelanjangi wanita PKS yang tampak alim ini dengan jilbab dan pakaian yang tertutup rapat. Birahiku sudah menggelegak di ubun-ubun dengan penis yang tegang mengeras. Aku melihat ibu muda aktivis PKS ini mempunyai tubuh yang indah dan terlihat masih kencang walaupun dia sudah punya anak tiga. Aku menyusuri keindahan tubuh telanjang wanita PKS ini dari ujung rambut hingga ke kakinya.Kemudian mataku kembali menatap kemaluan Mbak Nurul yang indah itu, tangaku kembali terulur menjamah bagian kewanitaan wanita alim yang telanjang ini.

Aku merasakan kewanitaan Val berdenyut liar, bagai memiliki kehidupan tersendiri. Warnanya yang merah basah, kontras sekali dengan rambut-rambut hitam di sekitarnya, dan dengan tubuhnya yang putih seperti pualam. Dari jarak yang sangat dekat, aku dapat melihat betapa liang kewanitaan aktivis wanita PKS ini membuka-menutup dan dinding-dindingnya berdenyut-denyut, sepertinya jantung Mbak Nurul telah pindah ke bawah. Aku juga bisa melihat betapa otot-otot dipangkal paha Mbak Nurul menegang seperti sedang menahan sakit. Kedua kakinya terentang dan sejenak kaku sebelum akhirnya melonjak-lonjak tak terkendali. Begitu hebat puncak birahi melanda Val, sampai dua menit lamanya perempuan yang menggairahkan ini bagai sedang dilanda ayan. Ia menjerit, lalu mengerang, lalu menggumam, lalu hanya terengah-engah. Aku kembali berdiri, dan segera melepas seluruh kain yang melekat di tubuhku termasuk celana dalamku. Batang kejantananku segera terlihat tegak bergerak-gerak seirama jantungku yang berdegup keras. Mbak Nurul masih menggeliat-geliat dengan mata terpejam, menampakkan pemandangan sangat seksi di atas ranjang kamar adik iparnya ini.

Tangan aktivis wanita PKS ini mencengkram sprei bagai menahan sakit, kedua pahanya yang indah terbuka lebar, kepalanya mendongak menampakkan leher yang mulus menggairahkan, rambut hitamnya terurai bagai membingkai wajahnya yang sedang berkonsentrasi menikmati puncak birahi.

Aku menempatkan dirinya di antara kedua kaki Mbak Nurul, lalu mengangkat kedua paha wanita PKS ini, membuat kewanitaannya semakin terbuka. Tanpa aku duga sama sekali, tiba-tiba tangan Mbak Nurul meraih penisku dan segera menuntun batang kejantananku memasuki gerbang kewanitaannya. Tak sabar, wanita PKS ini menjepit pinggangku dengan kedua kakinya, membuat tubuhku terhuyung ke depan, dan dengan cepat penisku yang tegang segera melesak ke dalam tubuh Mbak Nurul melalui liang kemaluannya. Bagiku, rasanya seperti memasuki cengkraman licin yang panas berdenyut. Akupun segera melakukan tugasku dengan baik, mendorong, menarik kejantananku dengan cepat. Gerakanku begitu ganas dan liar, seperti hendak meluluh-lantakkan tubuh putih Mbak Nurul yang sedang menggeliat-geliat kegelian itu. Tak kenal ampun, batang penisku menerjang-nerjang, menerobos dalam sekali sampai ke dinding belakang yang sedang berkontraksi menyambut orgasme. Wanita alim aktivis PKS ini merintih dan mengerang penuh kenikmatan.

Aku mengerahkan seluruh tenaganya menyetubuhi wanita PKS yang alim ini. Otot-otot bahu dan lenganku terasa menegang dan terlihat berkilat-kilat karena keringat. Pinggangku bergerak cepat dan kuat bagai piston mesin-mesin di pabrik. Suara berkecipak terdengar setiap kali tubuhnya membentur tubuh Mbak Nurul, di sela-sela derit ranjang yang bergoyang sangat keras. Mbak Nurul merintih dan mengerang begitu jalang merasakan kenikmatan yang ganas dan liar. Seluruh tubuhnya terasa dilanda kegelian, kegatalan yang membuat otot-otot menegang. Kewanitaannya terasa kenyal menggeliat-geliat, mendatangkan kenikmatan yang tak terlukiskan. Dengan mata terus terpejam, Mbak Nurul mengerang dan merintih penyerahan sekaligus pengesahan atas datangnya puncak birahi yang tak terperi. Aku merasakan batang kejantananku bagai sedang dipilin dan dihisap oleh sebuah mulut yang amat kuat sedotannya. Aku tak mampu menahan lagi, Kenikmatan yang kudapatkan dari jepitan kemaluan wanit alim ini tidak mungkin aku lukiskan.

Dengan geraman liar aku memuncratkan seluruh isi penisku dalam liang vagian Mbak Nurul, bercipratan membanjiri seluruh rongga kewanitaan wanita PKS yang juga sedang megap-megap dilanda orgasme sepertiku. Mbak Nurul mengerang merasakan siraman birahi panas dari ujung penisku dalam dasar kemaluannnya. Aku merasakan jepitan Mbak Nurul kian ketat berdenyut-denyut pada batang penisku dan cairan kewanitaan wanita alim ini terasa mengguyur batang penisku datang bergelombang. Aku menggeram liar disusul Mbak Nurul yang mengerang dan mengerang lagi, sebelum akhirnya terjerembab dengan tubuh bagai lumat di atas kasur.

Aku menyusul roboh menimpa tubuh putih Mbak Nurul yang licin oleh keringat itu. Nafasku tersengal-sengal ditingkahi nafas Mbak Nurul yang juga terengah bagai perenang yang baru saja menyelesaikan pertandingan di kolam renang. Tubuhku lunglai di atas tubuh telanjang Mbak Nurul yang juga lemas.

“Oh, nikmat sekali. Betul-betul ganas…” kata Mbak Nurul akhirnya, setelah ia berhasil mengendalikan nafasnya yang memburu. Matanya terpejam dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Aku Cuma menggumam, menenggelamkan kepalaku di antara dua payudara Mbak Nurul yang besar dan lembut.Aku melihat Mbak Nurul masih terpengaruh oleh sihir gendam yang aku gunakan, walaupun wanita PKS ini telah aku setubuhi. (Tamat)

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Nasib Mufidah

Mufidah adalah seorang ibu rumah tangga berwajah cantik yang berkulit putih bersih baru berusia 31 tahun. Selama 6 tahun perkawinannya mas Syamsul, wanita ini telah dikaruniai dua anak yang masing-masing berusia 3 tahun dan 5 tahun. Selain kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, wanita yang selalu mengenakan jilbab ini juga cukup aktif di Partai Keadilan sebagai seorang kader demikian juga suaminya. Wanita cantik ini terlihat alim dengan jilbab lebar serta jubah panjang dan kaus kaki sebagai ciri Kader Wanita Partai Keadilan, apabila dia keluar rumah atau bertemu laki-laki yang bukan mahromnya.

 

Sore ini, ibu muda yang alim ini kedatangan tamu seorang laki-laki yang dikenalnya sebagai rekan bisnis suaminya. Mufidah mengenakan jilbab lebarnya serta kaus kaki menutupi kakinya untuk menemuinya, karena kebetulan suaminya sedang rapat di kantor Partai Keadilan dan baru akan kembali selepas maghrib. Dengan jilbab putih yang lebar serta jubah panjang bemotif bunga kecil berwarna biru serta kaus kaki berwarna krem, Mufidah menemui tamu suaminya yang bernama Hendri. Mufidah mengenal tamu suaminya karena hampir tiap minggu, rekan bisnis suaminya ini datang bertamu.Wajahnya tidak tampan namun tubuhnya terlihat tegap dan atletis.Usianya lebih muda dari suaminya ataupun dirinya hingga suaminya ataupun dia sendiri memanggilnya dengan sebutan dik Hendri. Sebetulnya Mufidah kurang menyukai laki-laki bernama Hendri itu, karena wanita alim ini dapat merasakan tatapan nafsu tamu suaminya jika melihatnya. Walaupun Mufidah telah mengenakan pakaian rapat tertutup dengan jilbab lebar, namun Mufidah dapat merasakan betapa liarnya mata Hendri bila menatapnya. Tatapn mata Hendri seakan hendak melannya bulat-bulat sehingga dia lebih suka menghindar jika Hendri
datang bertamu. Namun kali ini, Mufidah terpaksa harus menemuinya karena kebetulan suaminya sedang rapat dan wanita ini tidak mungkin menyuruh Hendri kembali karena Mufidah tahu betapa jauhnya rumah Hendri. Walaupun ada rasa kurang suka, terpaksa Mufidah bersikap ramah kepadanya. Setelah berbasa-basi sejenak akhirnya Mufidah
mempersilahkan Hendri menunggu di ruang tamu sedangkan dia pergi ke dapur membuatkan minum untuk tamu suaminya itu.

Sore ini, suasana rumah Mufidah memang sangat sepi. Selain suaminya yang tidak ada di rumah, kedua anaknya pun sedang ngaji dan baru pulang menjelang maghrib nanti. Di dapur, Mufidah tengah menyiapkan minuman dan makanan kecil buat tamu suaminya yang tengah menunggu di ruang tamu. Tangan ibu muda kader Partai Keadilan ini tengah mengaduk gelas untuk minum tamu suaminya ketika tanpa disadarinya, laki-laki tamu suaminya yang semula menunggu di ruang tamu tamu tersebut menyelinap ke dapur menyusul Mufidah.

Mufidah terpekik kaget, ketika dirasakannya tiba-tiba seorang lelaki memeluknya dari belakang. Wanita berjilbab lebar ini menjadi sangat kaget ketika menyadari yang memeluknya adalah Hendri tamu suaminya. Mufidah berupaya meronta dari dekapan Hendri namun tiba-tiba sebilah belati telah menempel di pipi wanita yang halus ini, membuat Kader Wanita Partai Keadilan ini tak berkutik. Hendri mendekatkan mulutnya ke telinga Mufidah yang tertutup jilbab lebar.

“Maaf, Mbak Mufidah. Mbak Mufidah begitu cantik dan menggairahkan, aku harap Mbak jangan melawan atau berteriak atau belati ini akan merusak wajah ayu yang cantik ini”. desis Hendri dalam membuat Mufidah gemetar tak berkutik.

Kilatan belati yang ditodongkan Hendri kepada Mufidah membuat wajah wanita berjilbab anggota Partai Keadilan ini pucat pasi. Seumur hidupnya, baru kali ini Mufidah melihat pisau belati yang terlihat berkilat-kilat sangat tajam itu sehingga membuat wanita ini lemas ketakutan.Wajahnya pucat pasi oleh ketakutan yang menyerangnya.

Tubuh ibu muda berjilbab yang alim ini mengejang ketika kemudian dia merasakan,kedua tangan Hendri itu menyusup ke balik jilbab lebarnya,meremas-remas lembut kedua payudaranya yang tertutup jubah dan bra. Lantas salah satu tangan lalu turun ke arah selangkangannya, meremas-remas kemaluannya dari luar jubah yang dipakainya.

“Jangaan.. dik Hendrii..”desah Mufidah dengan ketakutan. Namun laki-laki ini tak perduli, kedua tangannya kian bernafsu meremas-remas buah dada serta selangkangan wanita alim berusia 31 tahun ini. Mufidah menggeliat-geliat menerima remasan laki-laki yang bukan suaminya ini dalam posisi membelakangi laki-laki itu. “Jangaan.. dik Hendrii….sebentar lagi anak-anakku pulang..” desah Mufidah masih dengan wajah ketakutan.

Hendri terpengaruh dengan kata-kata Mufidah, diliriknya jam dinding yang terdapat di dapur tersebut. Memang selama sering bertamu di rumah ini Hendri mengetahui bahwa tak lama lagi kedua anak wanita yang akan diperkosanya itu pulang dari ngaji. Laki-laki ini mengumpat pelan sebelum kemudian, Hendri berlutut di belakang Mufidah. Mufidah
menggigil dengan tubuh kejang ketika kemudian wanita Kader Partai Keadilan ini merasakan tangan lelaki tamu suaminya itu merogoh lewat bagian bawah jubahnya, lalu menarik turun sekaligus rok dalam dan celana dalamnya.Tubuh Mufidah gemetar oleh rasa malu dan takut ketika tanpa diduganya, Hendri menyingkap bagian bawah jubah birunya ke atas sampai ke pinggang.

Ibu muda berjilbab lebar ini terpekik dengan wajah yang merah padam ketika menyadari bagian bawah tubuhnya kini telanjang. Hendri justru merasa takjub melihat istri rekan bisnisnya ini dalam keadaan telanjang bagian bawah tubuhnya. Sungguh, laki-laki ini tidak pernah menyangka kalau sore ini akan melihat kemulusan tubuh istri
Mas Syamsul yang selalu dilihatnya dalam keadaan berpakaian rapat.

Pertama kali Hendri melihat Mufidah, laki-laki ini memang sudah tergetar dengan kecantikan wajah wanita berkulit putih ini walaupun sebenarnya Hendri juga sudah beristri, tapi apabila dibandingkan dengan Mufidah wajah istrinya tidak ada apa-apanya. Namun kealiman wanita yang selalu berpakaian rapat tertutup dengan jilbab yang lebar membuatnya merasa segan juga disamping Mufidah adalah istri teman bisnisnya. Tetapi seringkalinya dia bertamu ke rumah mas Syamsul dan bertemu istrinya membuat Hendri semakin terpikat dengan kecantikan istri mas Syamsul ini. selama ini memang Hendri selalu melihat Mufidah dalam keadaan memakai pakaian jubah panjang dan jilbab yang lebar, namun Hendri dapat membayangkan kesintalan tubuh wanita ini melalui tonjolan kemontokan buah dadanya dan kemontokan pantatnya yang terlihat.Hendri tidak menyangka kalau bagian tubuh Mufidah yang selama ini tersembunyi, sore ini dapat dinikmatinya.

Muka Mufidah merah padam ketika diliriknya, mata Hendri masih melotot melihatnya yang setangah telanjang. Celana dalam dan rok dalam yang dipakai wanita berjilbab ini kini teronggok di bawah kakinya setelah ditarik turun oleh Hendri, sehingga wanita alim ini tidak lagi memakai celana dalam. Bentuk pinggul dan pantat wanita alim yang sintal ini sangat jelas terlihat oleh Hendri. Belahan pantat Mufidah yang telanjang terlihat sangat bulat, padat serta putih mulus tak bercacat membuat birahi laki-laki yang telah menggelegak sedari tadi kian menggelegak.Diantara belahan pantat Mufidah terlihat belahan bibir kemaluan wanita istri rekan bisnisnya yang kemerahan terlihat menggiurkan.

“Mbak Mufidah..Kakimu direnggangkan. Aku ingin melihat memekmu…” desis Hendri sambil jongkok menahan birahinya melihat bagian kehormatan istri rekan bisnisnya.

Wanita Partai Keadilan ini menyerah, ia merenggangkan kakinya. Dari bawah, lelaki itu menyaksikan pemandangan indah menakjubkan. Di pangkal paha wanita berjilbab ini tumbuh rambut kemaluannya, meski tak lebat namun terlihat rapi. Hendri kagum melihat kemaluan Mufidah yang begitu montok dan indah, beda sekali dengan kemaluan istrinya.

“Jangaan..diik..hentikaaan…anak-anaku sebentar lagi pulang “ pinta Mufidah dengan suara bergetar menahan tangis, ketika wanita alim ini merasakan tangan Hendri meremas-remas bongkahan pantatnya yang telanjang. Namun Hendri seolah tak mendengarnya justru tangan kemudian lelaki itu menguakkan bongkahan pantat Mufidah lantas
mendekatkan wajanhnya menciumi pantat mulus yang montok itu. Mufidah menggeliat terlebih ketika lidah Hendri mulai menyentuh anusnya.

Mulut Mufidah mulai merintih dan tubuh ibu muda berjilbab ini mengejang ketika wanita ini merasakan lidah lelaki itu menyusuri belahan pantatnya lantas menyusuri celah di pangkal pahanya. Dengan bernafsu Hendri menguakkan bibir kemaluan Mufidah yang berwarna merah jambu dan lembab.

Tubuh wanita Partai Keadilan ini mengejang hebat saat lidah lelaki itu menyeruak ke liang vaginanya. Tubuhnya bergetar ketika lidah itu menyapu klitorisnya. Semakin lama wanita berjilbab berusia 31 tahun ini tak kuasa menahan erangannya ketika bibir lelaki itu mengatup dan menyedot-nyedot klitorisnya,dan menit-menit selanjutnya Mufidah semkin mengerang jalnag oleh birahi ketika Hendri seakan mengunyah-ngunyah kemaluannya. Seumur hidupnya, Mufidah belum pernah diperlakukan seperti ini walaupun oleh mas Syamsul, suaminya.

“Hmmm…, memekmu enak , Mbak Mufidah….” kata Hendri itu sambil berdiri setelah puas menyantap kemaluan istri rekan bisnisnya ini,walaupun tangan kirinya terus mengucek-ngucek kelamin Mufidah.

“Aihhhh…eungghhhh….” Mufidah mengerang dengan mata mendelik, ketika beberapa saat kemudian sesuatu yang besar,panjang dan panas mulai menusuk kemaluannya melalui belakang. Tubuh wanita berjilbab ini mengejang ketika menyadari kemaluannya tengah dimasuki penis Hendri dan aktivis Partai Keadilan ini hanya bisa pasrah.Hingga
sekejap kemudian Mufidah merasakan batang penis Hendri yang jauh lebih besar dan panjang di banding milik suaminya, telah bersarang di liang kemaluannya hingga menyentuh rahimnya.Tubuh Mufidah hanya mampu menggelinjang ketika Hendri mulai menggerakan penis dalam jepitan kemaluannya.

“Mmmfff…enak juga ngentot Mbak Mufidah tanpa melepas bajunya….nnghhh…” kata Hendri di belakangnya sambil menggerakkan pinggangnya maju mundur dengan napas terengah-engah. Mufidah dapat merasakan penis Hendri yang kini tengah menusuk-nusuk liang kemaluannya, jauh lebih besar dan panjang dibanding penis suaminya. Tangan kiri lelaki itu membekap pangkal paha Mufidah, lalu jari tengahnya mulai menekan klitoris ibu muda berjilbab itu lantas dipilinnya dengan lembut, membuat wanita Partai Keadilan yang alim ini menggigit bibirnya.

Mufidah tak kuasa menahan sensasi yang menekan dari dasar kesadarannya.Wanita berjilbab lebar ini mulai mendesah, apalagi tangan kanan lelaki itu kini menyusup ke balik jubahnya, lalu ke balik cup BH-nya dan memilin-milin puting susunya yang peka.

“Ayo Mbak Mufidah….ahhhh…jangan bohongi dirimu sendiri…nikmati…ahh….nikmati….” Hendri itu terus memaju mundurkan penisnya yang terjepit vagina wanita muda yang alim ini.
Mufidah menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba melawan terpaan kenikmatan di tengah tekanan rasa sakit dan malu. Tapi ia tak mampu. Mufidah mendesah dan mengerang denagn tubuh menggelinjang jalang dan akhirnya dalam waktu beberapa menit kemudian wanita Partai Keadilan ini menjerit saat ia meraih puncak kenikmatan, sesuatu yang baru
pertama kali ditemuinya walaupun 6 tahun dia telah menjalani pernikahan dengan mas Syamsul.

Tubuh Mufidah langsung lunglai, tapi lelaki di belakangnya selangkah lagi sampai ke puncak. Terus mengaduk vaginanya dengan kecepatan penuh. Lalu, dengan geraman panjang, ia menusukkan penisnya sejauh mungkin ke dalam kemaluan ibu muda berjilbab ini. Kedua tangannya mencengkeram payudara Mufidah yang padat dan montok dengan
kuat. Mufidah yang masih dibuai gelombang kenikmatan, kembali merasakan sensasi aneh saat bagian dalam vaginanya disembur cairan hangat mani dari penis Hendri yang terasa banyak membanjiri liang vaginanya. Mufidah kembali merintih, mirip suara anak kucing, saat perlahan Hendri menarik keluar penisnya yang lunglai. Begitu gelombang kenikmatan berlalu, kesadaran kembali memenuhi ruang pikiran wanita Partai Keadilan ini. Mufidah terisak dengan tangan bertumpu pada meja dapur.

“Sudah, Mbak Mufidah nggak usah nangis! toh mbak Mufidah ikut menikmati juga, jangan ceritakan pada siapa-siapa kalau mau selamat !!” kata Hendri itu dengan tekanan keras sambil membenahi celanannya.

Mufidah diam saja, harga dirinya sebagai seorang istri dan wanita Partai Keadilan hancur, namun tak urung matanya sempat mengamati penis Hendri yang sebelum laki-laki ini merapikan celananya. Ada rasa takjub pada diri Mufidah melihat ukuran penis tamu suaminya tersebut, walaupun tidak sedang dalam keadaan tegang. Hendri tidak menyadari
kalau penisnya tengah diamati oleh wanita yang telah diperkosanya itu, hingga setelah merapikan celanya laki-laki ini buru-buru keluar dari dapur dengan gugup.

Mufidah itu baru merapikan pakaiannya yang awut-awutan ketika, ketika dilihatnya Hendri telah pergi dari dapur dan beberapa saat kemudian tanpa berpamitan, terdengar suara mobil Hendri berlalu meninggalkan halaman rumahnya. Mufidah terisak menyesali nasib yang menimpanya, namun dia juga merasa malu betapa dia ikut menikmati ketika tamu suaminya itu memperkosanya, namun wanita Partai Keadilan ini buru-buru menghapus air matanya ketika didengarnya dua anaknya pulang dengan ceria.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Mufidah Lagi (ML)

Dan sejak peristiwa perkosaan itu, ketika ia melakukan hubungan kelamin dengan suaminya Mufidah sudah tak bisa merasakan nikmat lagi saat ia melayani suaminya. Mufidah merasakan penis suaminya tidak ada apa apanya bila dibandingkan dengan punya hendri yang besar panjang, dan bayangan saat ia diperkosa oleh hendri membuat dirinya menuntut sesuatu yang dapat memberikan gelombang kenikmatan. Ia ingin suaminya bisa seperkasa hendri yang bisa melambungkan sukmanya saat mencapai puncak kenikmatan. Rasa menyesal saat diperkosa dan gejolak syahwat berkecamuk dalam batinnya membuat ibu muda itu merindukan kejantanan milik lelaki seperti Hendri, namun semuanya ia pendam sendiri seolah olah tidak ada kejadian apa apa bila berada didepan suaminya.

 

Dua minggu setelah peristiwa itu Mufidah menerima telepon dari Hendri saat suaminya keluar kota. “ Halo mbak ! mas Syamsul pergi ke Semarang ya ?” Saya mau bertamu kerumah bolehkan.

“ Brengsek kamu dik Hendri !” jawab Mufidah.

“Lho, koq mbak marah…. mbak menikmati juga kejantananku saat itu”. Lalu Mufidah memutuskan hubungan telepon, dengan tubuh gemetar dan perasaan tak menentu ia masuk kedalam kamar, ia khawatir Hendri pasti akan datang bertamu siang ini disaat anak anaknya berada disekolah dan suaminya tak ada dirumah. Hatinya berkecamuk antara menerima kunjungan hendri atau tidak, namun gejolak nafsunya menuntut sesuatu yang tak pernah didapatkan dari suaminya.

Tiba tiba ketukkan pintu terdengar olehnya dan dengan gugup ia keluar dari kamar, langkahnya sedikit gemetar saat menuju pintu rumah. Ketika ia membuka pintu tampak seringai Hendri dengan sorot mata penuh nafsu saat menatap dirinya. Tanpa basa basi lagi Hendri langsung mengunci pintu rumahnya, dan Hendri telah mempunyai rencana agar isteri sahabatnya yang cantik ini akan selalu ketagihan dengan batang kejantanannya, dan Hendri akan menunjukan bagaimana memberikan kepuasan dalam permainan seks pada isteri sahabatnya.

Saat Hendri mendekati tubuh wanita cantik ini kian gemetar dan dengan buasnya Hendri menciumi leher jenjang isteri sahabatnya, tubuh ibu muda itu mengejang ketika dengan sedikit kasar Hendri meremas remas pantatnya dan kekasaran itu membuat gejolak nafsu Mufidah menggelegak hingga lupa akan segala galanya. Matanya terbelalak saat dengan cepatnya Hendri sudah dalam keadaan telanjang dihadapannya, penisnya yang besar panjang mulai membesar. Dan dengan kasar Hendri melucuti pakaian Mufidah hingga keduanya sama sama telanjang yang tinggal hanya jilbabnya yang belum terlepas, karena Hendri akan lebih bergairah jika isteri sahabatnya saat digarap masih memakai jilbab. Kemudian Hendri mendudukan ibu muda itu di sofa, lalu disorongkan penisnya kewajah Mufidah dan digesekan kehidung perempuan itu.

“ Ayo mbak cium dan jilati ini penis yang pernah memberikan kenikmatan ayo ayo !.” Saat itu Mufidah serasa akan muntah karena ia belum pernah mencium penis Hendri sedang penis suaminya belum pernah Mufidah menjilatinya, dan ini penis orang lain. Namun kali ini ia dengan terpaksa melakukan itu.

“ Pegang ya mbak, dan gesek gesek dipipi, nah begitu cium mbak terus terus cium. Aroma batang penis itu mulai merangsang Mufidah dan tanpa sadar ia mulai menjilati penis Hendri dengan nafsu yang menggelegak dan ia merasakan sensasi baru memacu gairahnya, ia mulai merasakan penis itu kian membesar dalam mulutnya hingga mulutnya tak sanggup lagi untuk mengulum batang penis lelaki itu. Mufidah sudah bukan Mufidah yang dulu lagi sejak ia mengenal batang penis lelaki yang besar panjang,…mmmfff mmmf……

“ Oh oh yeah enak juga ngentot mulut mbak, ternyata mbak suka isep kontol besar ya “, dan kata kata kotor Hendri ditelinganya serasa indah terdengar dan nafsu Mufidah kian membuncah keubun ubun. Dik Hendri puaskanlah mbak….. bawalah mbak masuk kekamar oh dik cepatan…..setubuhi mbak seperti tempo hari…Aaaagggh..Ouuuh”

Lalu Hendri membopong tubuh molek isteri sahabatnya naik keranjang, dan dengan buas Hendri menindihnya, dan ibu muda itu berkelojotan saat mulut Hendri mengulum putting susu yang masih segar dan jari jari Hendri merogoh liang vaginanya. Mufidah kian mengejang…. “Ooooh mmmf ampun Dik Hendri jangan….jangaaan mempermainkan mbak oh yeah mmf. Ayo dik Hendri berilah mbak nikmat kejantananmu….aaaaaampun. “

He heee sabar dong mbak, aku juga suka dengan memek mbak yang sempit ini, aku suka ngentotin memekmu, mana yang enak punyaku dengan punya mas Syamsul mbak…..

“Enak punyamu dik. Mana yang besar dan panjang punyaku sama punya mas Syamsul….. Oh dik tolong dik cepat…. Bbbbbesar pppppunya muuu. Lalu dengan gemasnya Hendri menggigit kecil payudara indah milik Mufidah seraya batang penis besar itu menerobos masuk keliangnya yang sempit, walau ia sudah melahirkan anak dua namun serasa sempit buat ukuran penis besar Hendri.

Mata ibu muda itu terbeliak keatas saat penis besar itu kandas didasar rahimnya dan kenikmatan seperti itu belum pernah ia dapatkan dari suaminya dan sekarang ia dapat merasakan dari penis orang lain selain suaminya, tubuhnya menggeletar hebat ketika dengan irama lambat dan terkadang cepat ayunan batang penis Hendri keluar masuk vaginanya. Kenikmatan demi kenikmatan serasa sampai ke ubun ubunnya….

oh oh yeh enak eeeeeenak kontol besarmu dik Hendriiiiiiii oh ampun. Ia meracau tanpa sadar saking kenikmatan itu mendera dirinya. Mufidah bagaikan kuda betina liar saat dipacu oleh lelaki sahabat suaminya, ia melenguh seperti sapi disembelih karena nikmatnya, ia menangis dan menyesal karena selama ini ia telah tertipu oleh suaminya bahwa kenikmatan itu bisa ia dapatkan asalkan mas Syamsul tahu bagaimana caranya memberikan kepuasan kepadanya, dan ternyata suaminya adalah suami yang tidak mempunyai pengetahuan tentang urusan seks, itu yang membuat ia menangis, serta menyesal, terhina dan marah pada diri sendiri.

Maka bagaikan banteng betina yang terluka ia pacu nafsu berahinya yang terpendam selama ini. “ Ayo dik nikmatilah tubuhku, setubuhilah aku sesukamu. Baik mbak yang cantik… kekasih binalku sekarang waktunya nikmatilah rasa kontol besar ini…mmmmf yeah, oh memek mbak legit rasanya. Dan Tubuh Mufidah melengkung saat ia mencapai puncak nirwana

Ooooh enak tolooooong ampuuuuuun, biji mata Mufidah mendelik ia berkelonjotan saat semburan lahar panas Hendri dengan derasnya menyemprot dasar rahimnya, dan batang penis besar itu berkedut kedut didinding vaginanya. Selama 6 tahun perkawinannya dengan mas Syamsul baru ini ia merasakan begitu nikmatnya semburan air man lelaki hingga tubuhnya bergetar bagai kena aliran listri ribuan watt dan sukmanya serasa terbang melambung keawang awang.

Hingga kini hubungan mereka telah berjalan 1 tahun tanpa diketahui oleh suaminya, karena mereka pintar memanfaatkan waktu serta merahasiakannya, kadang bila ada kesempatan mereka melakukan di hotel dan yang lebih berani lagi saat suaminya ada dirumah. Hendri pura pura berkunjung untuk bermain catur dengan suaminya, saat itu juga isterinya menyediakan minuman kopi buat suaminya dengan dibubuhi obat tidur yang sengaja dibawa Hendri, sehingga sewaktu suaminya bermain catur dengan hendri Syamsul tidak tahan lama karena mengantuk berat lalu masuk kedalam kamar. Mufidah berpura pura ikut tidur juga disamping suaminya agar suaminya tidak curiga dan ia katakan bahwa Hendri ingin menginap dirumahnya dan tidur di sofa ruang tamu. Pada saat suaminya telah tertidur pulas bagaikan orang mati, Mufidah disetubuhi oleh Hendri disamping suaminya, Mufidah berpacu dalam birahi hingga ia meringkik nikmat dengan tubuh berkelojotan disamping tubuh suami yang tertidur pulas, bahkan perbuatan yang demikian itu membuat sensasi aneh tersendiri bagi mereka berdua. Persetubuhan itu mereka lakukan hingga menjelang subuh.

Ada sesuatu yang lebih membuat Mufidah amat terangsang nafsunya bila saat Hendri sekali kali datang berkunjung kerumahnya, dengan berpura minta diajarkan computer sama Hendri sementara suaminya duduk diruang keluarga sambil menikmati secangkir kopi, hanya dengan jarak beberapa meter, disitu ibu muda itu sedang belajar computer bersama Hendri, Mufidah merasa sangat terangsang hebat saat dengan sengaja Hendri menggesek gesekan batang penisnya yang menegang dari balik celana training ke lengan Mufidah yang sedang mengetik didepan monitor. Gesekan itu membuat sensasi aneh dalam dirinya ketika merasakan batang penis Hendri serasa mengeras dan tegang dipangkal lengannya, dan terkadang pula ia rasakan batang penis besar itu berdenyut denyut dipinggangnya saat dengan sengaja Hendri pindah membelakangi tubuhnya.

Suaminya tidak merasa curiga sedikitpun karena Syamsul tahu bahwa isterinya sedang diberi pelajaran tentang mengakses computer, ia tidak menyadari bahwa isterinya sedang dirangsang oleh Hendri habis habisan. Tubuh Mufidah mulai menggeletar penuh nafsu dengan aksi yang dilakukan Hendri padanya. Karena sudah tak tahan lagi Mufida pergi keruang dapur membuat minuman dan Hendri pergi menuju toilet namun sesungguhnya Hendri ikut pula menyusul isteri sahabatnya kearah dapur, dari balik lemari makan yang besar itu mereka melakukan persetubuhan dengan berdiri dengan amat tergesa gesa saat sang suami wanita itu sedang menikmati secangkir kopi sambil membaca Koran. Syamsul tidak menyadari bahwa isterinya sedang disetubuhi habis habisan oleh Hendri dengan posisi berdiri. “Ooooh Hendri mmmmfff…..ampun dik Hen…, dengan buas Hendri mengayunkan pantat maju mundur menusukkan penis besarnya kedalam vagina ibu muda itu, sukma wanita cantik itu serasa terbang kelangit tinggi saat ia disetubuhi dengan cara demikian itu oleh Hendri sahabat suaminya, Mufidah belum pernah merasakan disetubuhi dengan cara berdiri dan tergesa gesa, dan ini yang membuat suatu kenikmatan tersendiri buat Mufidah saat ia digarap oleh Hendri sementara sang suami berada tak jauh darinya.

Oooooh Hendri mbak keluaaar oh ampun dik, cepat dik hendri nanti ketahuan suamiku, namun Hendri tidak menghiraukannya, dengan perkasanya Hendri memacu kuda betinanya yang cantik ini sampai berkelojotan dengan biji mata mendelik keatas menikmati kocokan batang penis besar itu dalam vaginanya yang sempit, “Oooooh yeah memek mbak sempit legit, enaak rasanya”, aku akan lebih bergairah lagi bila aku dapat ngentot mbak bila disaksikan mas Syamsul.

Hendri semakin terbuai sensasi saat ia dengan buasnya menyetubuhi isteri sahabatnya padahal Syamsul tak begitu jauh jaraknya dari tempat mereka bersetubuh. Dan dengan menggeram nikmat Hendri menyemprotkan air maninya kedalam vagina ibu muda itu, Mufidah mengejang dan mengerang bagaikan kucing betina yang mengeong lirih saat semburan lahar panas Hendri menerpa dasar rahimnya, tubuhnya bergetar dengan hebat dengan nafas serasa akan putus ketika batang kejantanan Hendri yang besar panjang berkedut kedut diliang memeknya…..oooohhh mmmmffff…enaaaaaaaaaaak, ampuuuuuun dik, kontolmu enak dan besar.

Dan persetubuhan itu berakhir dengan sama sama mencapai puncak nirwana yang diraih dengan cara tergesa gesa penuh rasa sensasi. Dan akhirnya mereka berdua kembali keruang keluarga tanpa menimbulkan kecurigaan mas Syamsul. Sebelum keluar dari dapur Hendri sempat berbisik ketelinga ibu muda itu, “ Lain waktu aku akan ngentotin mbak lagi ya, seraya tangan Hendri meremas remas susu mengkal wanita cantik berdarah ningrat itu.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar